Gold Price

Category

Search This Blog

Sunday, October 2, 2011

Bohong, Bohong, dan Bohong!



bohon


Sudahkah Anda berbohong hari ini? Saya sudah. Saya sudah berbohong bahwa tentang alasan datang terlambat kepada seorang teman. Kemarin saya juga berbohong, walaupun sedikit. Kebohongan dilakukan oleh seorang individu yang sudah masuk dalam keseharian itu dinyatakan oleh Leonard Saxe, Ph.D., seorang profesor di Psikologi Universitas Brandeis mengatakan, “Berbohong sudah lama menjadi bagian dalam hidup. Kita tidak dapat melewati hari tanpa menipu seseorang.”


Jauh menjadi diri dewasa kita sekarang, seorang individu sudah berbohong semenjak umur tiga tahun. Anak-anak berbohong agar mereka dapat menghindari hukuman. Alasan individu berbohong adalah untuk melindungi diri sendiri dan menutupi kesalahan yang diperbuat. Selain itu, anak-anak juga diajarkan untuk berbohong oleh orang dewasa di sekitarnya seperti ‘Bilang Ayah tidak ada di rumah’ dan juga anak diajarkan berbohong untuk menjaga perasaan orang lain, misalnya ‘Bilang ke Tante Nina kalau kuenya enak.’ Fenomena ini biasa disebut white lies.


Namun fenomena keseharian ini jarang dikaji oleh para psikolog. Freud sendiri hanya menulis secara singkat sekali di buku Encyclopedia of Psychology (1984) yang jumlah halamannya sebanyak 1500 tentang aktivitas menipu ini. Tapi bagi para psikolog yang memperdalam tentang berbohong, mereka menemukan bahwa berbohong adalah sebuah fenomena yang umum sekaligus rumit.


Seorang psikolog di Universitas Virginia, Bella DePaulo, Ph.D., mengkonfirmasi pernyataan Nietzsche bahwa bohong adalah sebuah kondisi dalam hidup. Dalam penelitian tahun 1996, DePaulo dan rekan mengambil data dari 147 orang dengan rentang umur 18 hingga 71 tahun yang memiliki buku harian tentang kebohongan yang mereka ucapkan setiap minggu.


Dalam sebuah hubungan, kebohongannya tentu terjadi. Kebohongan terjadi satu dari dua percakapan antara hubungan remaja dan orang tua. Dalam hubungan romantis, 85% pasangan yang diwawancara pada penelitian tahun 1990 dilaporkan bahwa satu atau sepasang kekasih telah berbohong tentang hubungan masa lalu. Sedangkan dalam hubungan pernikahan, pasutri hanya berbohong sekitar 10% dari pembicaraan utama. Namun 10% itu hanyalah kebohongan-kebohongan kecil karena kebohongan besarnya melibatkan pengkhianatan yang dalam, yang terjadi secara luas di antara dua orang yang terlibat hubungan intim. “Kamu menyimpan kebohongan terbesarmu,” ujar DePaulo, “untuk orang yang sangat dekat denganmu.”


Penelitian menemukan bahwa semakin individu dengan seseorang, maka kebohongan yang disampaikan sifatnya lebih altruistik atau mengutamakan kepentingan orang lain. Ini banyak terjadi di perempuan. Meskipun semua jenis kelamin berbohong dalam frekuensi yang sama, namun perempuan berbohong dengan maksud untuk melindungi perasaan seseorang. Sementara itu laki-laki cenderung berbohong tentang dirinya—tipikal percakapan diantara dua orang laki-laki mengandung delapan kali kebohongan yang sifatnya berorientasi terhadap diri.


Lalu siapa yang suka berbohong? Menurut Journal of Personality and Social Psychology, DePaulo dan Deborah A. Kashy, Ph.D., melaporkan bahwa para pembohong cenderung manipulatif. Penelitian lainnya menunjukkan bahwa orang-orang yang ekstrovert atau yang lebih suka bersosialisasi lebih cenderung berbohong, dan beberapa trait kepribadian dan fisik—terutama kepercayaan diri dan keadaan fisik yang lebih atraktif—dihubungkan dengan kemampuan individu berbohong saat berada di bawah tekanan.


Apakah kebohongan dapat dideteksi? Jawabannya, bisa. Geoffrey C. Bunn, Ph.D., seorang psikolog dan sejarahwan poligraf di Canada’s York University menyebutkan bahwa lie detector dinyatakan bukan instrumen ilmiah atau hanya sebuah instrumen hiburan saja. Alat itu mendeteksi ketakutan, bukan kebohongan. Beberapa penelitian mengatakan bahwa kebohongan dalam dideteksi dengan cara keragu-raguan dalam berbicara atau ada perubahan nada pada suara, mengenal beberapa kebiasaan nervous seperti menggaruk, mengedip, atau gelisah. Selain itu juga ada pola yang bisa diprediksi dari seseorang yang sedang berbohong misalnya pembohong jarang menggunakan kata ganti pertama ‘saya’ dalam menulis atau berbicara. Mereka juga sering menggunakan kata-kata yang emosional seperti sakit atau marah, kata-kata kognitif seperti mengerti atau memahami.


Orang-orang berbohong dengan alasan yang berbeda. Semua orang melakukannya. Beberapa orang frekuensi berbohongnya lebih banyak dari orang lain. Dan karena begitu terkaitnya dengan kehidupan keseharian, bohong hanya menjadi sifat lain dalam diri manusia saja. (Nia Janiar)







20 SEPTEMBER 2011

0 comments:

Post a Comment