Gold Price

Category

Search This Blog

Sunday, July 22, 2018

Automatic Transfer Switch Menggunakan Omron Relay

Designed by Husni W, 21 July 2018


Rangkaian sirkuit listrik dalam diagram di atas terdapat komponen sebagai berikut:

  • PLN dengan asumsi daya yang terpasang adalah 5A atau 1200watt
  • Omron Relay MP2P-I Coil 220V dengan rating arus max.7A
  • SUOER Pure Sine Wave Inverter 1000watt
  • Aki kering "Maintenance Free" 100AH
  • MCB (Mini Circuit Breaker) Schneider Electric Domae 6A 2P


PERHATIAN:
Jika daya PLN yang terpasang lebih dari 5A, maka Omron Relay HARUS diganti dengan
Contactor dari Schneider Electric jenis LC1D dengan rating daya yang setara dengan
daya dari PLN. Demikian juga kapasitas Inverter HARUS disesuaikan dan setara dengan
daya PLN.

Daya listrik untuk kontrol sirkuit diambil dari MCB PLN langsung masuk ke PIN 7 dan 2 dan tidak boleh di jumper agar coil tidak terganggu. Karena menurut best practice, conrol circuit tidak boleh ada rangkaian lain. Perhatikan PIN 7 diberi kabel fasa (positif) agar sesuai dengan rekomendasi dari Omron.

PIN 3 dan 6 diberikan daya langsung dari MCB PLN sebagai sumber pertama atau sumber input listrik dari PLN, karena PIN tersebut merupakan PIN "NO" (Normally Open), di mana ketika ada aliran listrik pada PIN 7 dan 2, maka induksi listrik pada coil akan menyebabkan PIN 3 terhubung dengan PIN 1, dan PIN 6 akan terhubung dengan PIN 8, sehingga PIN 1 dan PIN 8 merupakan output listrik yang terhubung ke LOAD atau MCB rumah.

PIN 4 dan 5 diberikan daya langsung dari Inverter sebagai sumber listrik cadangan, karena PIN 4 dan 5 merupakan PIN "NC" (Normally Close), di mana saat tidak ada aliran listrik, PIN 4 selalu terhubung dengan PIN 1, dan PIN 5 selalu terhubung dengan PIN 8. Namun ketika coil ada induksi karena PIN 7 dan 2 mendapatkan daya listrik, maka hubungan PIN 4 dan 1 akan terputus, demikian juga PIN 5 dengan 8 juga terputus.

Karena sistim "NO" dan "NC" selalu saling bertentangan seperti fungsi saklar, maka PIN 1 dan 8 selalu mendapatkan sumber listrik HANYA dari salah satu sumber yakni PLN atau Inverter.

Dengan demikian, rangkain sirkuit listrik Automotic Transfer Switching ini sangat aman diaplikasikan.

Saturday, July 21, 2018

Apa itu Oklusi Arteri Karotis: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Cara Mengobati


Apa itu Oklusi Arteri Karotis?
Oklusi arteri karotis adalah kondisi medis di mana arteri yang memasok darah ke otak tersumbat. Sehingga, otak tidak bisa memperoleh suplai oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan. Akibatnya, kematian sel otak terjadi hanya dalam hitungan menit dan pasien mengalami stroke. Selain itu, kondisi ini juga dapat menyebabkan kerusakan otak permanen atau bahkan kematian.

Ada dua arteri karotis yang letaknya ada di setiap sisi leher. Tersumbat atau terblokirnya arteri karotis biasanya disebabkan oleh pembentukan plak. Plak terbuat dari zat yang dapat ditemukan di dalam darah, seperti kalsium dan kolesterol. Pada saat darah beredar di dalam tubuh, sejumlah kecil zat tersebut bisa menempel di pembuluh darah. Lama kelamaan, zat tersebut menumpuk dan menyebabkan penyumbatan. Banyak pasien yang menunjukkan tanda-tanda terkena stroke pada saat arteri mereka mulai menyempit. Tapi gejalanya akan hilang pada saat darah kembali mengalir ke otak. Jika pasien tidak segera menerima pengobatan, arterinya akan benar-benar tersumbat dan berakibat fatal.

Penyebab Oklusi Arteri Karotis
Kondisi ini biasanya disebabkan oleh plak yang terbentuk di dalam tubuh. Namun, ada penyebab lainnya yaitu kerusakan arteri.

Selain itu, ada sejumlah faktor lain yang dapat meningkatkan risiko berkembangnya kondisi ini. Seperti, gangguan dan penyakit yang bisa melemahkan dan merusak pembuluh darah. Dua contoh yang paling umum adalah diabetes dan tekanan darah tinggi. Obesitas dan gaya hidup yang kurang aktif juga bisa menjadi faktor yang meningkatkan risiko.

Untuk mengurangi risikonya, pasien bisa mencari penanganan medis untuk mengobati penyakit mendasar. Dalam banyak kasus, penyakit mendasar yang disebutkan di atas, dapat diatasi dengan obat-obatan serta dengan menjalani gaya hidup sehat.

Pemeriksaan tahunan rutin juga dapat membantu menurunkan risiko berkembangnya kondisi ini. Sebab, tanda-tanda awal dari oklusi arteri karotis dapat terdeteksi pada saat pemeriksaan fisik. Apabila dapat diketahui sejak dini, maka dapat dilakukan tindakan pencegahan guna mencegah terjadinya stroke.

Gejala Utama Oklusi Arteri Karotis
Arteri karotis yang terblokir/tersumbat merupakan penyebab utama terjadinya stroke. Gejala dari stroke meliputi:

  • Melemahnya atau mati rasa salah satu sisi tubuh secara mendadak
  • Merasa bingung secara mendadak.
  • Kesulitan berbicara atau memahami ucapan secara mendadak
  • Mengalami masalah penglihatan dan keseimbangan secara mendadak

Dalam banyak kasus ditemukan, pasien tidak memiliki gejala awal sebelum terkena stroke. Tapi berdasarkan beberapa laporan, biasanya mereka mengalami sakit kepala parah dan perubahan kemampuan penglihatan secara mendadak.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia
Arteri karotis yang tersumbat dapat didiagnosis dengan sejumlah tes dan prosedur. Dokter sering memulainya dengan ultrasound karotis. Tes ini menggunakan gelombang suara untuk mengukur tekanan pada arteri. Jika aliran darah lebih lambat dari biasanya, maka dokter akan melanjutkan dengan tes pencitraan, seperti MRI dan CT scan. Serebral angiography juga sering digunakan untuk memeriksa pasien. Tes ini dapat memberikan gambaran arteri secara jelas. Dengan demikian, dokter bisa memastikan jika memang ada penyumbatan di arteri pasien. Selain itu, dokter juga dapat mengidentifikasi lokasi penyumbatan secara tepat.

Prosedur pengobatan untuk penyakit ini tergantung pada seberapa parah penyumbatan yang terjadi. Selain itu, prosedurnya juga tergantung pada jumlah arteri karotis yang tersumbat.

Apakah hanya satu atau kedua arteri karotis yang tersumbat. Pada kasus ringan hingga sedang dapat diatasi dengan mengonsumsi obat saja. Pasien akan diberi obat tertentu untuk mengatasi penyakit yang dapat meningkatkan risiko terjadinya oklusi arteri karotis. Ini termasuk penyakit diabetes dan tekanan darah tinggi. Pasien juga disarankan untuk menjalani gaya hidup lebih sehat. Penting bagi mereka untuk mengonsumsi makanan yang seimbang dan berolahraga. Mereka juga harus bekerja sama dengan dokter untuk memantau kondisi secara rutin.

Pasien mungkin perlu menjalani pembedahan untuk menghilangkan plak yang menyumbat arteri. Prosedur ini biasanya merupakan operasi terbuka tradisional. Prosesnya membutuhkan sayatan di daerah leher untuk dapat mengakses arteri yang tersumbat oleh plak. Arteri yang tersumbat juga bisa diperlebar dengan tujuan untuk mengembalikan aliran darah normal. Namun, prosedur bedah juga bisa dilakukan dengan menggunakan metode minimal invasif. Prosesnya melibatkan tabung dengan balon di ujungnya akan dimasukkan ke dalam arteri karotis. Begitu berada di posisi yang tepat, maka balon akan dikembangkempuskan. Proses ini akan menekan plak ke dinding arteri, sehingga dapat memberi lebih banyak ruang bagi darah untuk mengalir. Umumnya, ring atau stent dapat ditinggalkan di tempat yang tersumbat agar arteri tetap terbuka.

Prosedur pengobatan akan berbeda untuk pasien yang sudah terkena stroke. Dokter akan fokus untuk menormalkan kembali aliran darah ke otak. Dokter akan melakukannya dengan menyuntikkan aktivator jaringan plasminogen ke dalam vena pasien. Obat ini bekerja dengan cara melarutkan penyumbatan di arteri. Penting untuk dicatat bahwa perawatan ini hanya bekerja jika diberikan dalam waktu tiga jam setelah pasien mengalami stroke. Begitu aliran darah ke otak telah pulih, maka pasien akan memerlukan prosedur seperti yang telah disebutkan sebelumnya. 

Rujukan:
  • North American Symptomatic Carotid Endarterectomy Trial Collaborators. Beneficial effect of carotid endarterectomy in symptomatic patients with high-grade carotid stenosis. North American Symptomatic Carotid Endarterectomy Trial Collaborators. N Engl J Med. 1991 Aug 15. 325(7):445-53.
  • Brown K, Itum DS, Preiss J, Duwayri Y, Veeraswamy RK, Salam A, et al. Carotid artery stenting has increased risk of external carotid artery occlusion compared with carotid endarterectomy. J Vasc Surg. 2015 Jan. 61 (1):119-24.

Saturday, July 7, 2018

RECOMMENDED INVERTER CABLES SIZING AND BREAKERS OR FUSES


RECOMMENDED INVERTER CABLES SIZING AND BREAKERS OR FUSES


Recommended Inverter Cables Sizing and Breakers or Fuses
Determine what size inverter to battery cables and DC breaker (or fuse) you should use with off-grid inverters to install and operate it safely.
written by altE Staff

RECOMMENDED INVERTER CABLE AND BREAKER OR FUSE SIZES

Use this table to decide what size Battery to Inverter Cables and Overcurrent Devices (Fuses & Breakers) to use with your inverter. Remember the fuse and breaker are there to protect your cabling from overheating (and potentially catching fire). You can use smaller cables but only if you in turn use a corresponding smaller breaker or fuse to protect the cable. However, using smaller cables and breaker than what's suggested can cause problems with your off-grid inverter because the breaker will repeatedly "pop" everytime you surge beyond its capacity rating.
Inverter Voltage
Continuous Watts
Max. Inverter Input Amps (DC)
Fuse Size 
(DC Amps)
Circuit Breaker
(DC Amps)
Wire Size (AWG)
12 Volt
600
80
80
80
2
800
107
110
110
2
1000
134
200
175
2/0
1500
200
300
250
4/0
2400
320
400
250
4/0
2500
334
400
250
4/0
2800
382
400
250
4/0
3000
400
400
250
4/0
24 Volt
600
40
50
50
8
800
54
75
75
4
1000
67
80
100
2
1500
100
110
110
2/0
2400
160
200
175
2/0
2500
167
200
175
2/0
3000
200
300
250
4/0
3500
230
300
250
4/0
4000
265
300
250
4/0
48 Volt
3000
76
110
110
2/0
3600
90
110
110
2/0
4000
148
200
175
2/0
5500
185
400
250
4/0
Larger cables may used if the distance from your inverter and battery banks is more than 10 feet (~3m).
altE offers battery cables ranging from 2/0 to 4/0 AWG in a variety of lengths for both between your inverter and battery bank and also between your batteries. We also have DC Rated circuit breakers ranging from 1 Amp up to 400 Amps.