Gold Price

Category

Search This Blog

Tuesday, September 14, 2010

Psikologi, Agama, dan Kesehatan


Psikologi, Agama, dan Kesehatan

ruangpsikologi   23 AUGUST 2010
stock-photo-young-muslim-man-51151546Beberapa pembaca mungkin pernah berada dalam keadaan sakit, atau menjaga/menjenguk orang yang sedang sakit. Saat itu, pernahkah anda mendengar kalimat seperti:
“Sabaaar.. banyak berdoa yaaa, biar cepat sembuuuh”
Jujur saja, saya termasuk yang pernah mendengar perkataan seperti itu. Agama / kepercayaan memang sering dikatakan dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan seseorang termasuk didalamnya kesehatan. Tertarik dengan fenomena seputar agama, kesehatan, dan psikologi tentunya, saya berusaha menemukan beberapa penjelasan ketiga hal tersebut berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan.
Sebelum membahas lebih lanjut, agama akan diartikan sebagai pikiran (kognisi) , perasaan (afeksi) serta tingkah laku sehari-hari yang kita sadari melalui interaksi dengan unsur supranatural yg dianggap punya peran penting dalam hidup manusia. Unsur psikologis yang terkait dengan agama adalah: 1) kepercayaan akan adanya Tuhan yang mempengaruhi kehidupan; 2) Tingkat kualitas dalam melakukan aktivitas agama (contoh: frekuensi berdoa, penghayatan dalam berdoa); 3) tingkat komitmen dalam beragama.
Beberapa penelitian telah dilakukan di AS, Denmark, Finlandia, serta Taiwan untuk melihat hubungan antara agama, kesehatan, serta psikologi. Dari penelitian tersebut diperoleh hasil bahwa 25 – 30 % individu yang aktif beragama memiliki usia yang lebih panjang. Keaktifan beragama diukur melalui berbagai cara, antara lain mengukur tingkat kepercayaan pada agama, frekuensi kunjungan (keikutsertaan) di rumah ibadah, maupun keterlibatan dalam beribadah (salat, berdoa, membaca kitab suci). Tidak hanya itu, individu remaja maupun dewasa (dengan latar belakang berbagai agama) dengan tingkat religiusitas yang tinggi juga lebih tidak menyukai minum-minuman keras atau rokok, serta lebih menunda melakukan aktivitas seksual. Mereka juga lebih sering menggunakan seat-belt, berkunjung kedokter gigi, serta minum vitamin dibanding mereka yang memiliki tingkat religiusitas lebih rendah.
Agama juga memiliki peran yang signifikan dalam berbagai tahap perkembangan. Untuk remaja, dikatakan bahwa remaja yang religius cendrung memiliki nilai yang lebih baik disekolah. Beberapa penelitian juga menunjukkan hubungan antara tngkat religiusitas dengan kemampuan remaja untuk berinteraksi dengan lingkungan. Tidak hanya itu, semakin baik religiusitas remaja, maka semakin baik pula rasa percaya diri nya.  Untuk yang sudah menikah, pasangan yang religius juga memiliki periode menikah yang lebih lama. Tidak hanya itu, tingkat kepuasan pernikahan, serta level komitmen mereka juga lebih baik dibanding pasangan yang tidak religius.
Hasil penelitian yang dilakukan selama dua dekade juga menyimpulkan bahwa agama memiliki kaitan dengan kesejahteraan psikologis. Individu dengan konsep agama yang positif memiliki kemungkinan yang lebih kecil untuk mengalami depresi. Selain itu, individu juga akan merasa lebih bahagia dalam menjalani kesehariannya. Penjelasan lain mengemukakan bahwa berdoa mampu mengaruhi keadaan pikiran serta tubuh. Dengan berdoa, keadaan pikiran akan menjadi tenang, sehingga tubuh juga menjadi rileks, kedua hal tersebut akan mengurangi kecemasan, menurunkan tekanan darah, menstabilkan pola tidur serta melancarkan proses pernafasan serta pencernaan.
Agama juga membantu proses self-regulation (pengaturan diri). Dilihat dari sudut pandang psikologi, self-regulation akan membuat individu bertingkah laku sesuai dengan aturan-aturan atau tujuan yang ingin dicapainya tersebut. Oleh karena itu, jika kembali dikaitkan dengan hubungannya dengan kesehatan, agama akan memberikan berbagai aturan untuk menjalani hidup yang sehat. Dengan penanaman aturan-aturan tersebut, individu dengan tingkat religiusitas yang baik akan lebih mampu mengontrol dirinya dalam menjalankan peraturan tersebut. Mereka lebih mampu menolak hal-hal yang tidak baik, seperti  tidak merokok, minum-minuman keras dsb.
Pada akhirnya, individu dengan tingkat religiusitas yang tinggi diasumsikan memiliki self-regulation serta kontrol diri yang lebih baik. Kedua hal tersebut diperkirakan merupakan alasan dibalik fakta yang ada diawal tulisan ini, yaitu penjelasan bahwa 20 - 30 % individu yang religius memiliki umur yang lebih panjang. Melalui pengaturan serta kontrol diri yang baik, individu akan menjauhi hal yang tidak baik untuk dirinya. Berbagai hasil penelitian yang telah dijelaskan diatas diharapkan mampu memberi gambaran tentang psikologi, agama, kesehatan. Namun demikian, pada akhirnya merupakan pilihan masing-masing individu untuk memilih, menjalankan, agama / kepercayaan dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga kita semua diberi anugrah sehat oleh-Nya.
Nova JoNo Ariyanto
Sumber:
Formica, M.J. 2010. The Science, Psychology and Metaphysics of Prayer. Diambil darihttp://www.psychologytoday.com/blog/enlightened-living/201007/the-science-psychology-and-metaphysics-prayer pada 16 Agustus 2010.
McCullough, M.E., & Willoughby, B.L. 2009. Religion, Self-Regulation, and Self-Control: Associations, Explanations, and Implications. Psychological Bulletin 2009, Vol. 135, No. 1, 69–93.
Sallquist, J. , Eisenberg, N., French, D., Purwono, U., & Suryanti, T.A. 2010. Indonesian Adolescents’ Spiritual and Religious Experiences and Their Longitudinal Relations With Socioemotional functioning.Developmental Psychology 2010, Vol. 46, No. 3, 699–716

0 comments:

Post a Comment