Gold Price

Category

ACCOUNTING (1) AUTOMOTIVE (4) COMPUTER (82) EBOOK (1) ELECTRONICS (5) ENVIRONMENT (1) FINANCIAL (1) HEALTH (265) INFO (6) LAW (1) MANAGEMENT (8) MOBILE DEVICES (14) MORAL STORIES (62) NETWORK (2) OTHERS (24) PHILOSOPHY (1) PSYCHOLOGY (19) SCIENCE (6)

Search This Blog

Showing posts with label PSYCHOLOGY. Show all posts
Showing posts with label PSYCHOLOGY. Show all posts

Wednesday, November 6, 2019

IQ EQ PQ AQ SQ CQ


MULTI INTELLIGENCE OR QUOTIENT (IQ, EQ, CQ, PQ, AQ, SQ)

According to Mainstream psychology, IQ constributes only about 20 percent to the factors that determine life success, which leaves 80 % to other forces. Solving logical or strategic problems involves the use of rational intelligence and is termed as “ intellectual Quotient (IQ)” initially only verbal and mathematical logical capabilities were considered intelligence.

Haward Garndner’s book “Frames of mind” denied the narrow IQ view and extended the concept to include Spactial capacity, Physical fluidity, Musical capability, Inter personal intelligence, intra-personal intelligence etc.

Where IQ measures the ability to grasp, retain and recall factual knowledge. Emotional Intelligence (EQ), measures the ability to understand and manage people, situation, emotions, challenges mature way.

IQ (intellectual Quotient)

IQ lead us to think, make cause-effect analysis, doin' math, describe somethin' and create our level of understanding. But many people just concentrate in this holy shit thing! Because I thought before, this is our future, what we learn at school, 8 hours per day, 6 days a week for 16 years in elementary school, junior high school, senior high school, and collage.

People with high IQ Exhibits the following Characteristics:

  • Logical and analytical ability
  • Inquisitiveness
  • Problem-solving skills
  • Interst in reading and using language effectively
  • Extraordinary memory with numbers and words.
  • Perfectionism
  • Long attention span


EQ (Emotional Quotient)

EQ is knowledge about knowing our self, sensitivity to feel change in our environment and also to estimate time, empathy, communication skill (I called it communication with voice and also with gesture, either with heart), courageous to confess our mistakes, respect diversity, etc. Who gonna be successful leader should develop these more than others! but keep your life in balance!

  • People with high EQ exhibits and express their feelings clearly and directly
  • Thery are not dominated by negative emotions such as fear, worry, guild, shame, embarrassment, obligation, disappointment and hopelessness
  • They are able to read non-verbal communication.
  • They balance feelings with reason, logic and reality
  • They are independent, self reliant and morally autonomous who can work and thirve with interdependence very effectively
  • They are internally self-motivated
  • They are not motivated by power, wealth, but are more influence by fame, relationship and approval by other
  • They are always people and group smart who work well in groups, teams and best in making relationship and maintain them
  • They are emotionally expressive yet resilient


PQ (Physical Quotient)

PQ is our body of course! We should count it on, coz' our body, my body is beautiful. Hohoho.. It has authority for a living. My brain executes heart to beat, lungs to suck the air, self-healing, laughing, sneeze, and also fart! pufff... It's amazing. Isn't it?

Physical Quotient (PQ) indicates the capacity to work through situation through your physical proves. That means effective and efficient use of your hand eyes coordination. Kind of skill and flawless fluidity demonstrated by sportsman, warriors, fighters, performers, athlets, dancer etc.

CQ (Creativity Quotient)

  • People with creativity are fluent thinker, able to generate possibilities, consequneces, or relate ideas
  • They are flexible thinkers, to use many different alternatives and approaches to the problem solving
  • They are original as thinkers, seeking new, unusual or unconventional associations and combinations among items of information
  • They often display intellectual playfulness and like to fantasize and imagine
  • They are sensitive to beauty and are attracted  to aesthetic values
  • They are versatile in use their multiple senses and harmonize them into unique synthesis and solutions


AQ (Adversity Quotient)

Adversity Quotient (AQ) is the understanding and measurement of human resilience and capacity to live, work and deal with unavoidable and undesirablecircumstances.

Like stress, adversity, trauma or tragedy. It entails remaining stable and maintaining our cool, equanimous, stable, harmonious yet human composure. It means maintaining healthy level of physical and psychological functions even in the face of chaos.

Spiritual Intelligence (SQ)

SQ is the foundation from 3 quotients above. It's helping us to stack our principles, values, and connect our soul with our believes, our purposes in life. Just this quotient when can claim that we are the most valuable creatures on earth

Spiritual Intelligence (SQ), expands the horizon of human Ego. It expands and harmonize the horizon of human awareness and influence to the largest possible dimensions which are all inclusive.  In fact the SQ is the foundation for an effective use of IQ, EQ, CQ, AQ etc. IQ, EQ, CQ, AQ must lead to SQ and SQ must strengthen and streamline our IQ, EQ, PQ, CQ and AQ.

People with high SQ exhibit the following characteristics:

  • Flexibility
  • Tolerance
  • Self-awareness
  • Broad inclusive approach
  • The ability to go through all challenges with poise and equanimity
  • The ability to understand both human, social as well as natural situation easily and able to handle them well
  • The ability to inspire by a vision
  • An ability to see connections between diverse things and see all holistically and wholistically
  • A desire and capacity to cause as little harm as possible and promote well-being harmony for all
  • A tendency to probe and ask fundamental question about everything
  • An ability to go against conventions

Saturday, April 13, 2013

SETIAP MANUSIA UNIK



Manusia merupakan makhluk yang tersusun atas sel-sel yang memiliki tugas dan fungsi masing-masing. Dari sel-sel penyusun yang berbeda tersebut, maka akan muncul output yang berbeda pula, sehingga dinamakan sebuah karakter. Macam-macam karakter yang terbentuk pada setiap individu tentunya mampu membuat kehidupan kita semakin berwarna. Coba bayangkan! Kalau semua orang yang ada di sekeliling kita adalah orang yang memiliki karakter yang sama dengan kita, maka jawabannya pasti hidup ini akan membosankan. Setiap hari, setiap jam dan setiap menit kita berjumpa, berbincang-bincang, dan berdiskusi hingga bertengkar dengan orang yang memiliki karakter yang sama dengan kita. Dua anak yang kembar sekalipun yang terlahir oleh rahim yang sama, memiliki banyak perbedaan karakter, apalagi orang yang jelas-jelas dilahirkan dari orang dengan kepribadian yang beranekaragam.

Kita memang menyadari bahwa kita berbeda. Setiap orang memiliki sifat/karakter yang lebih dominan daripada orang yang lainnya, begitu juga sebaliknya. Namun, dari sekian ribu karakter  tersebut, kita sering kurang begitu memahami bagaimana diri kita dimata lingkungan sosial sekitar kita, sehingga sering terjadi kesalahpahaman dengan orang yang berbeda karakter dengan kita ataubahkan yang memiliki karakter sama dengan kita. Oleh karena itu, mengenali pribadi kita adalah hal terpenting yang harus kita lakukan dalam hidup ini, sehingga kita juga mampu memahami dengan baik orang-orang yang ada disekeliling kita.

Florence Littauer, dalam buku Personality Plus, dan Armaya Junior, dalam buku Smart in Personality, membagi tipe kepribadian menjadi empat, yakni Sanguinis, Koleris, Melankolis dan Plegmatis. Masing-masing tipe tersebut memiliki ciri khas tersendiri dan tentunya tidak dimiliki oleh yang lain.

1. Sanguinis

Orang sanguinis biasanya populer dan identik dengan popularitas. Orang sanguinis ini memiliki kepribadian yang menarik, menghidupkan suasana, mencintai kesenangan, suka dkelilingi orang lain, suka berbicara, emosional, humoris, ingatan yang kuat akan warna, mampu berbicara dengan memukau, percaya diri, demonstratif, ekspresif, antusias, periang, penuh semangat, penuh rasa ingin tahu, good performence, lugu dan polos, berhati tulus serta kekanak-kanakan.

Dalam hal pekerjaan, orang sangunis selalu siap menjadi sukarelawan untuk tugas apapun, selalu memikirkan hal-hal baru, tampak hebat di permukaan, kreatif dan inovatif, punya energi, cemerlang, menginspirasi orang lain, dan memesona orang lain untuk ikut bekerja.

Sebagai teman, orang tipe ini adalah teman yang baik. Ia mudah bergaul, gampang jatuh cinta, suka dipuji, menyenangkan, tidak pendendam, cepat minta maaf, spontan, dan tidak membosankan.

Ciri fisik orang sanguinis adalah ia suka menggunakan pakaian yang unik dengan warna yang tidak sama dengan orang lain, dia sangat suka menjadi pusat perhatian. Wanita sanguinis biasanya menyukai pakaian-pakaian yang berwarna-warni dan bermotif, menyukai dandanan yang menjadikannya sebagai pusat perhatian atau setidaknya menyukai hiasan-hiasan yang ‘ramai’ untuk dipakai.

Kelemahan dari orang sanguinis adalah suka tidak ada tindak lanjut, mudah bosan bertele-tele, suka membesar-besarkan masalah. Orang tipe ini menyukai kesenangan dan berkepribadian memikat sehingga ia sering merasa tidak percaya bahwa ia bisa melakukan kesalahan. Mereka juga terlalu banyak bicara, tidak sabar untuk menceritakan segala sesuatu hingga mendetail, terlalu mementingkan diri sendiri, kurang peka, memiliki ingatan yang buruk, sulit untuk mendengarkan, kurang perhatian pada orang lain, sering menyela atau memutus pembicaraan orang lain, sering berbicara tanpa berpikir dahulu, teman yang selalu berubah-ubah tidak tertib, dan kekanak-kanakan.

2. Koleris

Orang koleris biasanya merupakan figur-figur seorang pemimpin. Ia adalah pribadi yang kuat, orang yang ekstrovert, sebagai pelaku, selalu optimis, dan pekerja keras. Orang koleris memiliki bakat menjadi seorang pemimpin, dinamis, dan aktif, sangat memerlukan perubahan, harus senantiasa memperbaiki kesalahan, berkemauan kuat dan tegas, tidak mudah patah semangat, bebas dan mandiri. Ia senantiasa memancarkan keyakinan dan percaya diri, bisa menjalankan apa saja, motivator yang hebat, berorientasi pada target, detail, terorganisir dengan baik, cenderung untuk mencari pemecahan yang praktis, bergerak cepat, mendelegasikan pekerjaan, menekankan hasil, dan berkembang dengan persaingan.

Orang koleris cenderung kurang butuh teman, lebih suka memimpin, dan biasanya ia memang bisa menjadi pemimpin yang bisa diandalkan. ia bisa unggul dalam keadaan yang darurat, bisa mengambil langkah-langkah pemecahan pada saat yang dibutuhkan. dalam pekerjaan, seorang koleris adalah pekerja keras, ambisius dalam mengejar prestasi. ia tidak bisa bersantai-santai, tidak suka malas-malasan, dan selalu tegang. ia akan menjadi semakin bersemangat jika berposisi sebagai pengendali alias pemimpin.

kelemahan dari orang koleris adalah mereka selalu sok unggul dan sering meremehkan orang lain. mereka juga tidak sabaran, suka menasehati atau memberi solusi meskipun tidak diminta sehingga kesannya menjadi sok tahu dan sok care. mereka benci kekalahan, tidak pernah merasa salah, arogan, sok kuasa, keras kepala, tidak sabaran, ceplas-ceplos, sulit menerima orang lain benar, juga sulit memahami kenapa orang lain tidak bisa menyesuaikan diri dengan dirinya. uniknya, mereka mampu memanipulasi orang lain sehingga tunduk dibawah kendalinya. rata-rata mereka juga otoriter dan senang dengan pertempuran. karena jika ia ‘bertempur’ dan menang, itulah kesenangan yag ia dambakan. bahkan yang ekstrim, ia bisa menghalalkan segala cara agar bisa meraih kemenangan. ia akan senang menyalahkan orang lain dan menganggap ia paling benar. sayangnya, ia juga sangat sulit untuk minta maaf.

orang koleris bisa dikenali dari cara berjalannya yang mantap, cepat dan penuh percaya diri. sementara mereka melangkahkan kaki, mungkin kamu akan merasakan tanah bergetar di bawahnya. orang-orang ini punya sesuatu yang penting yang harus dilakukan, punya hal-hal lain yang lebih besar untuk dipikirkan, dan tidak suka membuang-buang waktu untuk menyimpang atau sekedar melihat-lihat . ia juga sering berbicara dengan keras dan tegas.

orang-orang koleris lebih mementingkan fungsi daripada yang lainnya. jadi, biasanya ia tidak terlalu terpikat dengan mode pakaian dan lebih suka memilih pakaian biasa yang baik tapi tahan lama. ia memilih karena fungsinya, bukan keindahannya. atau kalau tidak, keindahan hanya sebagai pelengkap saja.

3. Melankolis

orang melankolis adalah tipe manusia yang ‘sempurna’. ia introvert, pemikir, dan pesimis. orang dengan tipe ini adalah orang yang mendalam dan penuh pikiran. ia juga analitis, serius, dan tekun, cenderung jenius, berbakat dan kreatif, artistik dan musikal, filosofis dan puitis, menghargai keindahan, perasa, suka berkorban, penuh kesadaran dan idealis. dalam hal pekerjaan, orang melankolis biasanya berorientasi jadwal, perfeksionis,standart tinggi, sangat rinci, gigih dan cermat. ia juga tertib dan terorganisasi. ia teratur, rapi, ekonomis, peduli dengan masalah-meskipun remeh, pintar mencari pemecahan masalah secara kreatif, suka diagram, grafik, dan daftar.

dalam pergaulan orang melankolis cenderung hati-hati dalam berteman, puas di belakang layar, menghindari perhatian. namun demikian, ketika ia sudah mendapatkan teman yang cocok, ia akan setia dan berbakti, siap menampung curhat, mmpu memberikan solusi, sangat perhatian dan siap memberikan ‘segalanya’ untuk sahabatnya tersebut tanpa pamrih apapun. ia juga mudah terharu oleh linangan air mata orang lain, serta cenderung mencari pasangan hidup yang ideal.

orang melankolis adalah orang yang selalu merasa paling benar namun dengan kesungguhan dan sikapnya yang perfeksionis, ia mampu membuktikan bahwa ia adalah orang yang benar. oleh karenanya, ia merupakan pemuja kesempurnaan, dan sangat mudah tertekan ketika melihat sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang ia anggap sebagai kebenaran, meskipun itu adalah hal yang remeh, seperti menyaksikan buku-buku yang berantakan, barang-barang yang berserakan, atau pakaian kotor yang tercecer di kamar.

mereka terkesan terlalu banyak memberi tuntutan kepada orang lain, khususnya orang-orang terdekat dalam hidupnya, misalnya pasangan hidupnya. wajah orang melankolis rata-rata muram dan selalu mencari-cari masalah. mereka gampang sakit hati dan menikmati rasa sakit itu.

ciri negatif lainnya, mereka biasanya memiliki citra diri yang negatif, alias minder. mereka terlalu sering memperhitungkan segalanya. kurang percaya diri ketika berada pada kerumunan sosial yang ramai.

kunci untuk mengamati orang melankolis adalah kata sempurna. segala hal mengenai mereka sempurna dan serba rapi, dengan perkecualian pada tipe melankolis ‘profesor linglung’ yang begitu intelek sehingga mereka tidak mau diganggu oleh penampilan, sehingga pakaian, postur tubuh dan gaya rambutnya biasanya selalu rapi.

4. Plegmatis

“lakukan sesuatu!” begitulah kalimat yang paling sering dilontarkan pada seorang plagmetis. damai, itulah kesan terkuat yang di dapat dari seorang plagmetis, ia adalah sosok yang introvert,  pengamat dan pesismis. ia rendah hati, mudah bergaul, santai, diam, tenang, sabar, dan baik keseimbangannya. hidupnya konsisten, cerdas, simpatik, baik hati, menyembunyikan emosi, bahagia menerima kehidupan dan efisien. dalam pekerjaan, ia cakap dan mantap. damai dan mudah sepakat, punya kemampuan administratif, menjadi penengah masalah, menghindari konflik, tetap baik meskipun di bawah tekanan, serta mampu menemukan cara yang mudah. ia mudah diajak bergaul, menyenangkan, tidak suka menyinggung perasaa, pendengar yang baik, selera humor lumayan, suka mengawasi orang, punya banyak teman, punya belas kasihan dan perhatian.

Sumber

Sunday, February 17, 2013

Kuis: Apakah Anda Bebas dari Stres?



stress-at-work

By dr. Andreas Erick Haurissa

Stres? Seringkali kita mendengar kata ini dari “Aduh saya stres lihat pekerjaan ini.”, mungkin sampai yang nyeleneh “Haduh stres ya orang itu?” Apa sebenarnya stres itu? Nah, Sobat bisa buka kembali artikel kami yang lalu mengenai pengertiannya yang tepat ya.

Kini, Tanyadok ingin mengajak Sobat untuk mencoba mengukur diri sendiri secara acak. Kuis ini tidak bisa serta-merta sebagai alat diagnosis untuk menentukan stres. Kuis ini ingin melihat bagaimana Anda bereaksi terhadap situasi tertentu dalam hidup. Sudah siap?

Jawaban setiap pertanyaan kuis ini bisa dijawab dengan 4 jawaban angka dengan interpretasi:

4 = Selalu
3 = Sering
2 = Kadang-kadang
1 = Tidak pernah

Pertanyaan :

  1. Apakah Anda mencoba melakukan sesuatu pekerjaan dengan menggunakan waktu sesedikit mungkin?
  2. Apakah Anda merasa tak sabar saat menghadapi penundaan atau penyelaan (interupsi)?
  3. Apakah Anda merasa harus menang di setiap permainan agar Anda merasa menikmati/puas?
  4. Apakah Anda selalu menginjak gas  kencang-kencang untuk melanggar lampu merah?
  5. Apakah Anda merasa segan meminta bantuan ketika menghadapi masalah?
  6. Apakah Anda selalu merasa ingin dihormati dan dihargai oleh orang lain?
  7. Apakah Anda mengkritik pekerjaan orang lain secara berlebihan?
  8. Apakah Anda memiliki kebiasaan untuk selalu melihat jam?
  9. Apakah Anda selalu ngotot mencari kedudukan yang tertinggi?
  10. Apakah Anda merasa waktu selalu kurang?
  11. Apakah Anda memiliki kebiasaan mengerjakan lebih dari dua hal di suatu waktu?
  12. Apakah Anda selalu mudah marah dan tersinggung?
  13. Apakah Anda merasa memiliki waktu yang kurang untuk hobi?
  14. Apakah Anda memiliki kencenderungan berbicara dalam tempo cepat?
  15. Apakah Anda merasa diri Anda ambisius?
  16. Apakah teman Anda merasa diri Anda ambisius?
  17. Apakah Anda memiliki kecenderungan untuk terlibat dalam beberapa pekerjaan?
  18. Apakah Anda memiliki banyak deadline dalam pekerjaan?
  19. Apakah Anda merasa bersalah atau gerah ingin bekerja saat liburan atau bersantai?
  20. Apakah Anda memegang banyak tanggung jawab?


Setelah memberi poin atau angka pada setiap jawab, jumlahkanlah. Berikut adalah interpretasinya:

Angka 20-30 : 
Anda memiliki risiko merasa non-produktif, hidup Anda sedikit rangsangan atau stimulasi.

Angka 31-50 : 
Anda memiliki keseimbangan hidup yang baik, Anda mampu mengontrol stres.

Angka 51-60 : 
Tingkatan stres Anda ada di ambang batas. Hati-hati.

Angka di atas 60 : 
Anda mungkin mengalami stres yang berlebihan.

Sumber:  Sweet Biar College, Virginia, United States. Stress Quiz: How stressed are you?

Sumber

Sunday, January 13, 2013

Rahasia Tes Wartegg




Tes menggambar ini (wartegg) tidak memerlukan kemampuan menggambar, melainkan hal ini hanya suatu cara bagi seorang penguji/psikolog untuk mengetahui kepribadian anda dari cara menggambar dan apa yang anda gambar. Template tes nya bisa di download di sini

Tes Wartegg mengharuskan peserta untuk melengkapi gambar yang terdiri dari 8 gambar, 4 diantaranya berupa garis lurus (Gambar III, IV, V, dan VI) dan empat lainnya berupa garis lengkung (Gambar I, II, VII, VIII). Yang perlu anda ingat adalah untuk garis lengkung sebaiknya anda menggambar benda hidup dan untuk garis lurus yang kaku sebaiknya anda menggambar benda mati. Jika anda menggambar terbalik, misal garis lurus digambar dengan bunga, hewan dan sebagainya atau garis lengkung digambar dengan mobil, mesin dan sebagainya, hal ini menandakan “ada yang salah” dengan jiwa atau kepribadian anda.

Selanjutnya dari cara menggambar pun bisa kelihatan kepribadian seseorang misal : jika saat mengambar anda terlalu sering menghapus atau kotor menandakan bahwa anda adalah orang yang peragu atau tidak terencana dan jika anda menggambar terlalu kuat untuk garis yang seharusnya lembut berarti anda termasuk orang yang keras kepala.

Apa yang anda gambarpun juga menunjukan kepribadian atau kemampuan IQ anda. Jika anda menggambar sesuatu yang “biasa saja dan umum” tentu penilaian tingkat kecerdasannya akan berbeda dibanding jika anda menggambar “sesuatu yang tidak terpikirkan oleh orang lain dan berwawasan”

Namun demikian, tes psiko hanyalah merupakan suatu alat buatan manusia untuk mengetahui kepribadian seseorang secara umum saja. Kesimpulan yang dihasilkannya boleh jadi berbeda dengan kepribadian yang sesungguhnya. Hal ini diakui oleh para psikolog sendiri bahwa tidak ada satu pun tes di jagad raya ini yang benar-benar akurat dapat menilai kemampuan dan kepribadian seseorang.

Isi dari masing2 gambar :

  1. Berupa titik ditengah kotak : ini menyangkut hal2 yg berhubungan dengan penyesuaian diri yaitu bagaimana seseorang menempatkan diri dlm lingkungan
  2. Berupa ~ tp berada di kotak sebelah kiri : menunjukkan fleksibilitas perasaan.
  3. Berupa 3 garis horisontal dr pendek, sedang tinggi sejajar: mengukur hasrat untuk maju/ ambisi
  4. Berupa kotak kecil di sebelah kanan : mengukur bagaimana seseorang mengatasi kesulitan
  5. Seperti huruf T tp miring (susah gambarin nya) : mengukur bagaimana cara bertindak.
  6. Berupa garis horisontal & vertikal : mengukur cara berpikir / analisa & sintesa
  7. Berupa titik2 : menyangkut kehidupan dan perasaan ( apakah sudah stabil, kekanakan)
  8. Berupa lengkungan : mengenai kehidupan sosial/ hubungan social


Sumber

Tuesday, July 10, 2012

Enam Life-Skill Terpenting di Abad 21




kebetulan?


Dua puluh tahun lalu, jika ingin sukses, kita cukup mengasah otak setajam mungkin. Jika kita pintar, dengan ciri-ciri diterima dan lulus dari fakultas favorit di universitas ternama, maka masa depan yang cerah sudah dapat dipastikan. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, muncul tantangan-tantangan baru yang tak bisa dihadapi hanya dengan intelijensia. Tantangan-tantangan tersebut antara lain: derasnya arus informasi dengan tingkat kebenaran yang bervariasi, meningkatnya tuntutan kerja karena sekarang pekerjaan bisa mengejar kita ke rumah setelah memasyarakatnya smartphone, ketidakpastian ekonomi, persaingan yang ketat dan lain-lain.


Tantangan-tantangan ini harus dihadapi dengan kemampuan (life skills) yang tepat. Beberapa ahli psikologi berteori bahwa mereka sudah menemukan seperangkat life skills yang dapat menjawab kebutuhan kita ini (Galinsky, 2010). Life skills yang dibahas oleh ahli psikologi ini bisa kita dapatkan dengan mengasah fungsi eksekutif otak kita (fungsi yang mengatur dan mengkombinasikan kemampuan intelektual, sosial, emosi dan perhatian kita). Dengan meningkatnya kemampuan kita mengatur fungsi eksekutif otak kita maka kepintaran kita akan menjadi lebih optimal, karena kita dapat memakainya sesuai dengan kondisi yang dihadapi, mencari celah yang tidak terpikirkan oleh orang lain dan mengistirahatkannya pada saat harusnya tidak dipakai.


Berikut adalah 6 life skills yang essential di era informasi ini:


1. Focus dan self control


Saat banyak sekali distraksi dalam hidup dan tuntutan untuk multi-tasking (mengerjakan beberapa pekerjaan bersamaan), kemampuan untuk bisa fokus sangatlah penting. Jika tidak mampu untuk memfokuskan diri, maka sekian banyak tugas yang kita dapatkan tidak akan selesai dengan baik. Selain itu, ketidakmampuan diri kita untuk fokus akan menyebabkan terhambatnya perkembangan diri, karena kita tidak mendapatkan hasil yang maksimal pada saat ada kesempatan untuk belajar.


Tak kalah pentingnya adalah bentuk fokus yang berhubungan dengan masa depan, yaitu self-control. Maksudnya, kita harus mampu menolak keuntungan kecil yang datang lebih cepat untuk mengejar keuntungan besar yang akan datang di masa datang (misalnya, memutuskan untuk sekolah lebih tinggi daripada cepat-cepat bekerja). Dalam dunia kerja, self-control dapat berbentuk menolak tawaran yang kurang menguntungkan tetapi menguras tenaga jika ada kesempatan yang lebih menguntungkan di masa depan.


Fungsi eksekutif yang perlu diasah untuk meningkatkan fokus dan kontrol diri adalah: kemampuan memusatkan perhatian, mengingat peraturan-peraturan yang harus diikuti dan kemampuan menahan respon awal untuk meraih tujuan yang lebih besar.


Cara melatih kemampuan ini:

  • Cari tahu hal apa saja yang membantumu fokus dan menggunakannya. Jika pada saat bekerja kamu membutuhkan stimulasi lagu klasik agar lebih tenang, jangan lupa membawa radiomu kemana-mana. Tapi jika kamu membutuhkan ketenangan, mungkin ada baiknya kamu membeli headphone penangkal suara.
  • Sediakan waktu untuk berhenti dan memilah informasi. Ada saatnya kamu harus melihat kembali stimulus yang kamu dapatkan dan memutuskan mana yang harus dibuang dan mana yang harus ditindaklanjuti.
  • Sediakan waktu untuk istirahat.
  • Latihlah kemampuan melihat jauh ke depan. Sesekali, cek pilihan untuk masa depan yang kamu miliki saat ini, kemudian bayangkan apa saja keuntungan dan kerugian dari tiap pilihan.



2. Mengambil perspektif dari sisi orang lain


Pada dasarnya, kesuksesan akan datang pada mereka yang bisa melihat kebutuhan orang lain. Saat kita sekolah, kita akan mendapatkan nilai bagus jika bisa mengerjakan tugas sesuai standar dari guru yang memberikannya. Dalam dunia kerja, kita harus mampu melihat kebutuhan orang lain sehingga bisa menyediakan barang atau jasa yang akan dipakai banyak orang. Jika kita hanya bertumpu pada intelektual kita maka ada kemungkinan usaha kita tidak membuahkan hasil. Misalnya, karena membuat suatu produk yang diatas kebutuhan masyarakat tapi akhirnya tak terbeli karena ongkos pembuatannya yang mahal.


Executive functions dalam perspective taking: kemampuan mengontrol pikiran kita sehingga kita bisa mengambil cara pandang orang lain (inhibitory control), bisa melihat suatu hal dari berbagai sudut (cognitive flexibility) dan kemampuan untuk mengakui bahwa cara pandang orang lain juga valid (reflection).


Cara melatihnya:

  • Role playing.
  • Diskusi tentang apa kira-kira yang dirasakan orang lain (studi kasus).
  • Jika kamu berada di pihak produsan, bisa dengan mengambil data dari calon pelanggan tentang kebutuhan mereka.



3. Komunikasi


Kesuksesan tidak mungkin diraih sendiri. Saat kita masih berada di bangku sekolah, tugas-tugas yang memerlukan pengumpulan data yang banyak harus dikerjakan secara berkelompok. Saat kerja, untuk mendapatkan untung besar, barang atau jasa harus diproduksi secara massal. Proses ini memerlukan delegasi tugas dan kerja sama. Jika orang-orang di dalamnya tidak dapat berkomunikasi dengan baik, niscaya orang ini akan selalu menjadi mereka yang berada di bawah untuk mendapatkan instruksi dan tidak akan menjadi pemimpin.


Fungsi eksekutif dalam komunikasi: kemampuan menjelaskan apa yang mau kita sampaikan dan kemampuan menahan cara pandang kita agar orang lain dapat memasukkan pendapatnya (yang sesuai dengan tujuan kita).


Cara melatihnya:

  • Perbanyak ikut forum diskusi (klub buku dan lain-lain).
  • Belajar bahasa asing, karena dengan kembali meng-evaluasi proses berkomunikasi dalam bahasa lain, kemampuan komunikasi kita secara umum juga akan lebih tertata.
  • Sesekali cek apakah struktur kata-kata kita sudah menggambarkan apa yang kita mau.
  • Bermain tebak-tebakan, dengan mendeskripsikan hal yang akan ditebak.
  • Asah skill komunikasi di media lain (menggambar, menari, main musik, membuat film dan lain-lain).





4. Making connections


Kita harus selalu membuat ide baru agar tidak tertinggal oleh kemajuan yang dibuat oleh pesaing kita. Hal ini dimulai dari kemampuan mengkategorikan hal-hal di dunia sebagai berguna dan tidak. Kemudian, langkah berikutnya adalah melihat kategori baru yang tidak dilihat orang lain. Akhirnya, kita akan memiliki kemampuan membuat koneksi baru antara satu kategori dengan kategori lain sehingga muncul inovasi baru. Salah satu contoh dari proses ini adalah, bagaimana penyedia wisata di Australia melihat hubungan antara berselancar di laut dengan gurun pasir yang banyak dimiliki Australia, sehingga akhirnya membuat objek wisata berselancar di atas pasir.


Cara lain dalam menemukan inovasi baru adalah dengan memecah-mecah suatu konsep untuk membangunnya kembali menjadi hal yang baru, seperti seniman daur ulang yang bisa membuat karya indah dari sampah.


Fungsi eksekutif otak yang dipakai dalam making connections: working memory (untuk mengingat atribut yang bisa digabungkan dengan atribut lain) dan cognitive flexibility (untuk melihat fungsi baru dari suatu konsep atau barang).


Cara melatihnya:

  • Kumpulkan beberapa benda dan cari berbagai cara untuk mengkategorikannya. Misalnya, antara apel, sendal, piring, selang dan bola. Kita bisa mulai membuat beberapa kategori dari yang sederhana seperti “barang yang berada di dalam dan di luar rumah” sampai yang kompleks seperti, “barang yang bisa dipakai untuk membuat karya seni”.
  • Melatih diri dengan mencoba melihat fungsi lain dari benda-benda di sekitarmu. Misalnya, melihat baju lama sebagai bahan untuk membuat boneka kain perca.



5. Berpikir kritis


Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu dihadapkan dengan pilihan-pilihan besar. Untuk memastikan bahwa keputusan yang kita buat itu tepat, maka informasi yang mendasari keputusan tersebut harus benar. Di sini kemampuan untuk berpikir kritis berperan untuk menyaring informasi yang masuk ke dalam otak kita.


Berpikir kritis adalah proses menelaah kebenaran sumber informasi. Orang yang berpikir kritis tidak akan menerima begitu saja informasi yang dia dapat. Dia akan mengecek apakah sumbernya terpercaya dan datanya diambil dengan cara yang tidak benar. Dengan memiliki informasi yang akurat, prediksi ke depan yang dilakukan orang tersebut akan lebih akurat.


Cara melatihnya:

  • Ingatlah terakhir kali kita harus mengambil keputusan sulit lalu evaluasi apakah cara kita mengambil keputusan sudah tepat atau belum.
  • Diskusikan mengenai hal-hal yang terjadi di sekitar kita dan cari sumber data yang paling dipercaya.
  • Analisa kembali bukti-bukti dari hal yang selama ini kita percaya begitu saja.
  • Cek perkataan orang yang memiliki agenda tersembunyi. Misalnya, tokoh masyarakat yang ikut bicara saat ada kepentingan politik untuk mempengaruhi opini masyarakat.
  • Ikut forum ilmiah.
  • Berkunjung ke museum sains.
  • Membaca dan mengkritisi perkataan para ahli.





6. Berani menerima tantangan


Cara pasti untuk meningkatkan keahlian dan pemasukan kita adalah dengan menyelesaikan tantangan-tantangan baru. Peningkatan keahlian ini juga akan membuat kita berada di depan dari pesaing-pesaing kita.


Hanya saja, penghalang terbesar dari mengerjakan tantangan baru adalah stress. Maka, mengalahkan stress adalah salah satu langkah dalam menghadapi tantangan. Terdapat dua cara yang dapat kita pakai dalam menghadapi stress:

  • Membicarakan stress dengan orang terdekat dan bersama-sama mencari pemecahannya.
  • Ambil waktu untuk menenangkan diri di tengah stress.



Itulah dia 6 life-skills yang akan mengoptimalkan modal IQ yang kamu miliki. Kalau kamu memiliki cara-cara lain yang bisa dipakai untuk melatih 6 life-skills ini, silakan share kiat-kiatnya di bagian komentar, ya.


Sumber:

  • Galinsky, Ellen. (2010). Mind in the Making: The Seven Essential Life Skills Every Child Needs*. New York: Harper Studio.
  • (*Catatan: Penulis artikel hanya membahas 6 life-skills karena beropini bahwa life skills ke-7 –“Self Directed, Engaged Learning”– lebih condong sebagai kemampuan yang harus diasah pada anak-anak.)


Sumber

Sunday, October 2, 2011

Bohong, Bohong, dan Bohong!



bohon


Sudahkah Anda berbohong hari ini? Saya sudah. Saya sudah berbohong bahwa tentang alasan datang terlambat kepada seorang teman. Kemarin saya juga berbohong, walaupun sedikit. Kebohongan dilakukan oleh seorang individu yang sudah masuk dalam keseharian itu dinyatakan oleh Leonard Saxe, Ph.D., seorang profesor di Psikologi Universitas Brandeis mengatakan, “Berbohong sudah lama menjadi bagian dalam hidup. Kita tidak dapat melewati hari tanpa menipu seseorang.”


Jauh menjadi diri dewasa kita sekarang, seorang individu sudah berbohong semenjak umur tiga tahun. Anak-anak berbohong agar mereka dapat menghindari hukuman. Alasan individu berbohong adalah untuk melindungi diri sendiri dan menutupi kesalahan yang diperbuat. Selain itu, anak-anak juga diajarkan untuk berbohong oleh orang dewasa di sekitarnya seperti ‘Bilang Ayah tidak ada di rumah’ dan juga anak diajarkan berbohong untuk menjaga perasaan orang lain, misalnya ‘Bilang ke Tante Nina kalau kuenya enak.’ Fenomena ini biasa disebut white lies.


Namun fenomena keseharian ini jarang dikaji oleh para psikolog. Freud sendiri hanya menulis secara singkat sekali di buku Encyclopedia of Psychology (1984) yang jumlah halamannya sebanyak 1500 tentang aktivitas menipu ini. Tapi bagi para psikolog yang memperdalam tentang berbohong, mereka menemukan bahwa berbohong adalah sebuah fenomena yang umum sekaligus rumit.


Seorang psikolog di Universitas Virginia, Bella DePaulo, Ph.D., mengkonfirmasi pernyataan Nietzsche bahwa bohong adalah sebuah kondisi dalam hidup. Dalam penelitian tahun 1996, DePaulo dan rekan mengambil data dari 147 orang dengan rentang umur 18 hingga 71 tahun yang memiliki buku harian tentang kebohongan yang mereka ucapkan setiap minggu.


Dalam sebuah hubungan, kebohongannya tentu terjadi. Kebohongan terjadi satu dari dua percakapan antara hubungan remaja dan orang tua. Dalam hubungan romantis, 85% pasangan yang diwawancara pada penelitian tahun 1990 dilaporkan bahwa satu atau sepasang kekasih telah berbohong tentang hubungan masa lalu. Sedangkan dalam hubungan pernikahan, pasutri hanya berbohong sekitar 10% dari pembicaraan utama. Namun 10% itu hanyalah kebohongan-kebohongan kecil karena kebohongan besarnya melibatkan pengkhianatan yang dalam, yang terjadi secara luas di antara dua orang yang terlibat hubungan intim. “Kamu menyimpan kebohongan terbesarmu,” ujar DePaulo, “untuk orang yang sangat dekat denganmu.”


Penelitian menemukan bahwa semakin individu dengan seseorang, maka kebohongan yang disampaikan sifatnya lebih altruistik atau mengutamakan kepentingan orang lain. Ini banyak terjadi di perempuan. Meskipun semua jenis kelamin berbohong dalam frekuensi yang sama, namun perempuan berbohong dengan maksud untuk melindungi perasaan seseorang. Sementara itu laki-laki cenderung berbohong tentang dirinya—tipikal percakapan diantara dua orang laki-laki mengandung delapan kali kebohongan yang sifatnya berorientasi terhadap diri.


Lalu siapa yang suka berbohong? Menurut Journal of Personality and Social Psychology, DePaulo dan Deborah A. Kashy, Ph.D., melaporkan bahwa para pembohong cenderung manipulatif. Penelitian lainnya menunjukkan bahwa orang-orang yang ekstrovert atau yang lebih suka bersosialisasi lebih cenderung berbohong, dan beberapa trait kepribadian dan fisik—terutama kepercayaan diri dan keadaan fisik yang lebih atraktif—dihubungkan dengan kemampuan individu berbohong saat berada di bawah tekanan.


Apakah kebohongan dapat dideteksi? Jawabannya, bisa. Geoffrey C. Bunn, Ph.D., seorang psikolog dan sejarahwan poligraf di Canada’s York University menyebutkan bahwa lie detector dinyatakan bukan instrumen ilmiah atau hanya sebuah instrumen hiburan saja. Alat itu mendeteksi ketakutan, bukan kebohongan. Beberapa penelitian mengatakan bahwa kebohongan dalam dideteksi dengan cara keragu-raguan dalam berbicara atau ada perubahan nada pada suara, mengenal beberapa kebiasaan nervous seperti menggaruk, mengedip, atau gelisah. Selain itu juga ada pola yang bisa diprediksi dari seseorang yang sedang berbohong misalnya pembohong jarang menggunakan kata ganti pertama ‘saya’ dalam menulis atau berbicara. Mereka juga sering menggunakan kata-kata yang emosional seperti sakit atau marah, kata-kata kognitif seperti mengerti atau memahami.


Orang-orang berbohong dengan alasan yang berbeda. Semua orang melakukannya. Beberapa orang frekuensi berbohongnya lebih banyak dari orang lain. Dan karena begitu terkaitnya dengan kehidupan keseharian, bohong hanya menjadi sifat lain dalam diri manusia saja. (Nia Janiar)







20 SEPTEMBER 2011

Sunday, August 14, 2011

Cara Mudah untuk Bahagia






Saat ini semakin banyak individu yang stres karena tekanan hidup yang semakin berat. Ekonomi yang tak menentu, penyakit yang semakin banyak, bencana yang terjadi di mana-mana, dan banyak hal lainnya yang dapat membuat individu mengalami stres. Apakah Anda salah satunya? Pada artikel ini saya ingin membahas tentang cara – cara yang dapat digunakan untuk membuat diri kita menjadi lebih bahagia.


Tubuh manusia memang unik. Berbagai emosi yang dirasakan individu dapat mempengaruhi keadaan fisik individu tersebut. Sebagai contoh, saat individu mengalami stress maka individu tersebut dapat mengalami sakit maag, pusing, mual, dsb. Sedangkan bila individu sedang bahagia, maka rasa lelah, pegal, dan penat seakan – akan tidak terasa.


Sebaliknya, fisik juga dapat mempengaruhi emosi. Sebagai contoh, ekspresi wajah kita dapat menentukan juga emosi apa yang kita rasakan. Saat kita tersenyum, maka emosi yang kita rasakan menjadi lebih positif. Sedangkan bila kita cemberut, maka emosi yang kita rasakan menjadi lebih negatif. Contoh lainnya, posisi tubuh kita juga mempengaruhi emosi yang kita rasakan. Bila posisi tubuh kita seperti individu yang sedang bersedih (bertopang dagu, membungkuk, dll) maka emosi kita juga akan lebih negatif dibandingkan bila posisi tubuh kita seperti yang dilakukan individu yang sedang bahagia (kepala tegak, menaikkan kedua tangan ke atas, dll).


Bagaimana proses terjadinya fisik mempengaruhi emosi? Otak ternyata dapat “tertipu” oleh fisik kita. Otak telah memiliki memori tentang apa yang kita lakukan saat merasakan emosi tertentu. Seperti telah disebutkan di atas, saat individu sedih pada umumnya akan bertopang dagu, saat individu bahagia akan merentangkan kedua tangan ke atas. Memori itu yang kemudian membuat otak “tertipu” oleh fisik kita. Saat fisik kita melakukan sesuatu yang merupakan tanda-tanda dari emosi tertentu tersebut, otak membuat kita berpikir kalau kita sedang merasakan emosi tersebut sehingga kita akhirnya seakan-akan merasakan emosi tersebut.


Dengan mengetahui bahwa kita dapat “menipu” otak untuk merasakan emosi yang kita inginkan tentu dapat membantu kita ketika kita sedang sedih, tidak bersemangat, atau kesal. Apabila kita sedang merasakan emosi negatif, cobalah untuk mengubah posisi tubuh atau tersenyum, tertawa sehingga dapat membuat otak kita berpikir kita sedang merasakan sebaliknya.


http://www.healthmean.com/health-growth/emotions-affect-the-body/


Strack, F., Martin, L.L., & Stepper, S. (1988). Inhibiting and facilitating conditions of the human smile: a nonobtrusive test of the facial feedback hypothesis. Journal of Personality and Social Psychology, 54, 768-777.


McGonigal, Kelly. (2009). Change Your Posture. http://www.psychologytoday.com/blog/the-science-willpower/200910/change-your-posture


http://www.neuropsychologycentral.com/interface/content/resources/page_material/resources_general_materials_pages/resources_document_pages/neuropsychosocial_factors_in_emotion_recognition.pdf


http://healthpsych.psy.vanderbilt.edu/2008/Smile.htm


Info Penulis:
Christian Hermawan adalah alumni Fakultas Psikologi UI.  Meskipun saat ini disibukkan oleh rutinitas pekerjaan, ia masih menyempatkan diri berbagi pengetahuan melalui artikel - artikelnya.


Sumber

Monday, April 4, 2011

Golongan Darah Ternyata Pengaruhi Karakter Sifat Seseorang


Karakter seseorang berdasarkan golongan darah

Anda percaya kalau golongan darah bisa mempengaruhi karakter sifat seseorang ? tentunya ini akan menjadi sebuah tanda tanya besar dalam hati anda. Percaya tidak percaya sebaiknya anda baca dulu semua artikel ini sampai selesai setelah itu baru anda bisa putuskan hasilnya… namun hal ini bukanlah bersifat mutlak karena banyak faktor lain yang menentukan sifat manusia. oke…berikut ini adalah karakter sifat seseorang berdasarkan golongan darahnya :

Golongan darah A


  1. Biasanya orang yang bergolongan darah A mempunyai sifat yang lembut, sabar dan kalem.
  2. Mempunyai karakter yang tegas, bisa diandalkan dan dipercaya namun keras kepala ( kepala batu orang timor bilang ) 
  3. Sebelum melakukan sesuatu mereka memikirkannya terlebih dahulu. Dan merencanakan segala sesuatunya secara matang. Mereka mengerjakan segalanya dengan sungguh-sungguh dan secara konsisten.
  4. Mereka berusaha membuat diri mereka se wajar dan ideal mungkin.
  5. mereka mencoba menekan perasaan mereka dan karena sering melakukannya mereka terlihat tegar. Meskipun sebenarnya mereka mempunya sisi yang lembek seperti gugup dan lain sebagainya.
  6. Mereka cenderung keras terhadap orang-orang yang tidak sependapat. Makanya mereka cenderung berada di sekitar orang-orang yang ber’temperamen’ sama.


Golongan darah B


  1. Orang yang bergolongan darah B biasanya otaknya cerdas, sifatnya periang dan rasa humornya tinggi
  2. Mereka cenderung penasaran dan tertarik terhadap segalanya.
  3. Mereka juga cenderung mempunyai terlalu banyak kegemaran dan hobby. Kalau sedang suka dengan sesuatu biasanya mereka menggebu-gebu namun cepat juga bosan.
  4. Cenderung ingin menjadi nomor satu dalam berbagai hal ketimbang hanya dianggap rata-rata. Dan biasanya mereka cenderung melalaikan sesuatu jika terfokus dengan kesibukan yang lain. Dengan kata lain, mereka tidak bisa mengerjakan sesuatu secara berbarengan.
  5. Mereka dari luar terlihat cemerlang, riang, bersemangat dan antusias. Namun sebenarnya hal itu semua sama sekali berbeda dengan yang ada di dalam diri mereka.
  6. Mereka bisa dikatakan sebagai orang yang tidak ingin bergaul dengan banyak orang.


Golongan darah O


  1. Orang yang bergolongan darah O biasanya mempunyai rasa percaya dirinya tinggi. Pendiriannya kuat dan nggak mudah goyah
  2. Mereka cenderung terlihat sebagai orang yang menerima dan melaksakan sesuatu dengan tenang. Mereka pandai menutupi sesuatu sehingga mereka kelihatan selalu riang, damai dan tidak punya masalah sama sekali. Tapi kalau tidak tahan, mereka pasti akan mencari tempat atau orang untuk curhat
  3. Mereka biasanya pemurah (baik hati), senang berbuat kebajikan. Mereka dermawan dan tidak segan-segan mengeluarkan uang untuk orang lain.
  4. Mereka biasanya dicintai oleh semua orang,  Tapi mereka sebenarnya kepala batu juga, dan secara rahasia mempunyai pendapatnya sendiri tentang berbagai hal.
  5. Di lain pihak, mereka sangat fleksibel dan sangat mudah menerima hal-hal yang baru maka cenderung mudah dipengaruhi oleh orang lain.
  6. Mereka terlihat berkepala dingin dan terpercaya tapi mereka sering tergelincir dan membuat kesalahan yang besar karena kurang berhati-hati. Tapi hal itu yang menyebabkan orang yang bergolongan darah O ini dicintai.


Gologan darah AB


  1. Orang yang bergolongan darah AB ini mempunyai perasaan yang sensitif, lembut.
  2. Mereka penuh perhatian dengan perasaan orang lain dan selalu menghadapi orang lain dengan kepedulian serta kehati-hatian.
  3. Di samping itu mereka keras dengan diri mereka sendiri juga dengan orang-orang yang dekat dengannya.
  4. Mereka jadi cenderung kelihatan mempunyai dua kepribadian.
  5. Mereka sering menjadi orang yang sentimen dan memikirkan sesuatu terlalu dalam.
  6. Mereka mempunyai banyak teman, tapi mereka membutuhkan waktu untuk menyendiri untuk memikirkan persoalan-persoalan mereka.


Sekarang silahkan anda putuskan sendiri mau percaya atau tidak dengan apa yang ditulis diatas, kalau saya sendiri percaya juga sih soalnya mirip juga sifat saya dengan apa yang dikatakan diatas…..

Asal Usul Preferensi Warna Yang Dimiliki Manusia



crowded_crayon_colors3


Di sebuah showroom mobil, terpajang beragam jenis mobil dengan berbagai warna. Bahkan ada juga mobil yang harganya tergantung dengan warna mobil tersebut padahal fungsinya sama saja. Selain mobil, dalam membeli sesuatu pun pilihan-pilihan manusia terpengaruh oleh warna misalnya pakaian, cat untuk kamar, handphone, dan lain-lainnya. Bahkan jika sudah terpatok pada suatu warna tertentu, barang-barang yang lain berwarna seragam. Tapi dari manakah datangnya preferensi warna yang dimiliki manusia?


Dua orang psikolog, Stephen Palmer dan Karen Schloss dari UC Berkeley, menerapkan sudut pandang “tidak ada yang masuk akal di dunia biologi kecuali teori evolusi” yang dikemukakan oleh Theodosius Dobzhansky pada tahun 1973. Mereka menguji teori bahwa preferensi warna manusia itu adaptif. Maksudnya adalah manusia lebih cenderung bertahan hidup dan bereproduksi berhasil jika mereka tertarik pada objek dengan warna yang “terlihat baik” untuk mereka dan mereka akan menghindari objek dengan warna yang “tampak buruk “untuk mereka. Ide utamanya adalah semakin banyak umpan balik berdasarkan pengalaman ketika seseorang menerima warna tertentu yang berhubungan dengan pengalaman positif, semakin banyak individu akan cenderung menyukai warna itu. Misalnya jika manusia memiliki pengalaman-pengalaman positif dengan warna hijau karena melihat pohon teh laksana permadani, pohon yang meneduhkan, maka manusia itu akan cenderung menyukai warna hijau.


Stephen Palmer dan Karen Schloss melakukan penelitian yang hasilnya menyatakan bahwa secara umum, manusia menyukai warna cerah misalnya langit cerah dan air bersih (misalnya biru) dan tidak menyukai warna yang berhubungan dengan pengalaman negatif (misalnya cokelat yang berhubungan dengan makanan membusuk atau kotoran). Merah terang, biru, dan hijau, adalah warna yang paling banyak disukai.


Perbedaan warna yang digemari manusia menjadi berbeda karena setiap individu memiliki pengalaman yang berbeda-beda mengenai sebuah warna. Mungkin saya menyukai warna ungu karena mengingatkan pada dinding kamar ketika saya masih kecil dan banyak kenangan yang indah di dalamnya, atau mungkin Anda menyukai warna kuning karena mengingatkan pada optimisme sinar matahari di pagi hari.


Preferensi ini dikuatkan oleh industri makanan dengan menciptakan perwarna makanan. Contoh kecilnya ada di sekitar kita yaitu di pedagang buah. Seseorang enggan melihat semangka yang tidak merah atau mangga yang tidak kuning, oleh karenanya buah-buahan itu dicelup ke perwarna, selain agar penjualannya meningkat, tetapi juga untuk memenuhi preferensi manusia. (Nia Janiar)


Sumber:


Fields, Douglas R. (2011, 1 April). Psychology Today:  Why We Prefer Certain Colors. Psychology Today [Online]. Tersedia:  http://www.psychologytoday.com/blog/the-new-brain/201104/why-we-prefer-certain-colors




Sumber

Saturday, April 2, 2011

Membaca Pikiran Orang Lain Dalam Kehidupan Sehari-hari








Oleh toso




Banyak anggapan bahwa membaca pikiran adalah pekerjaan seorang psikolog, paranormal atau bahkan dukun. Namun, percaya atau tidak, dalam kehidupan sehari-hari, anda semua adalah seorang pembaca pikiran. Sebab, tanpa kemampuan untuk mengetahui pikiran serta perasaan orang lain, kita semua tak akan mampu menghadapi situasi sosial semudah apapun. Dengan membaca pikiran, kita dapat membuat perkiraan tentang tingkah laku seseorang lalu membuat kita dapat menentukan keputusan berikutnya.


Jika kita melakukan pembacaan ini dengan buruk, dampaknya bisa serius: konflik bisa saja terjadi akibat kesalahpahaman. Contoh yang nyata kesulitan mengenali pikiran dan perasaan orang lain—mindblindness, dapat dilihat pada penyandang autisme, dimana ketidakmampuan tersebut menjadi suatu kondisi yang mengganggu.


Kemampuan membaca pikiran ini, yang oleh William Ickes—profesor psikologi di University of Texas, disebut sebagai emphatic accuracy.


Darimana asalnya?
Kemampuan (terbatas) kita untuk membaca pikiran menurut Ross Buck–profesor Communication Sciences di University of Connecticut, memiliki sejarah yang amat panjang. Dikatakannya bahwa, melalui jutaan tahun evolusi, sistem komunikasi manusia berkembang menjadi lebih rumit saat kehidupan juga menjadi lebih kompleks. Membaca pikiran lantas menjadi alat untuk menciptakan dan menjaga keteraturan sosial; seperti membantu mengetahui kapan harus menyetujui sebuah komitmen dengan pasangan atau melerai perselisihan dengan tetangga.


Kemampuan ini sendiri muncul sejak manusia dilahirkan. Bayi yang baru lahir lebih menyukai wajah seseorang dibandingkan stimulus lainnya, dan bayi berusia beberapa minggu sudah mampu menirukan ekspresi wajah. Dalam 2 bulan, bayi sudah dapat memahami dan berespon terhadap keadaan emosional dari pengasuhnya. Nancy Eisenberg, profesor psikologi di Arizona State University dan ahli dalam perkembangan emosional, menuturkan bahwa bayi berusia 1 tahun mampu mengamati ekspresi orang dewasa dan menggunakannya untuk menentukan tingkah laku berikutnya. Lanjutnya, bayi usia 2 tahun mampu menyimpulkan keinginan orang lain dari tatapan matanya, dan di usia 3 tahun, bayi dapat mengenali ekspresi wajah gembira, sedih atau marah. Saat menginjak usia 5 tahun, bayi sudah memiliki kemampuan dasar untuk membaca pikiran orang lain; mereka telah memiliki “teori pikiran.” Bayi tersebut mampu memahami bahwa orang lain memiliki pemikiran, perasaan dan kepercayaan yang berbeda dengan yang mereka miliki.


Anak-anak tadi mengembangkan kemampuan membaca pikiran dengan mengamati pembicaraan orang dewasa, dimana mereka membedakan kompleksitas aturan dan interaksi sosial. Selain itu, kegiatan bermain dengan teman sebaya juga dapat melatih anak untuk membaca pikiran anak lainnya. Namun, tak semua anak bisa mengembangkan kemampuan ini. Anak-anak yang mengalami penelantaran dan kekerasan cenderung mengalami hambatan dalam mengembangkan kemampuan membaca pikiran ini. Sebagai contoh, anak yang dibesarkan dalam keluarga yang penuh dengan kekerasan, mungkin akan jauh lebih peka terhadap ekspresi marah, walaupun sesungguhnya emosi marah tidak muncul.


Lanjut lagi, kemampuan membaca pikiran yang lebih maju biasa muncul pada masa remaja akhir. Hal ini terjadi karena kemampuan untuk menyimpan perspektif dari beberapa orang di saat yang sama—dan lalu mengintegrasikannya dengan pengetahuan kita dan orang yang bersangkutan itu—seringkali membutuhkan kemampuan otak yang sudah jauh berkembang.


Bagaimana Membaca Pikiran?
Membaca bahasa tubuh adalah komponen inti dari membaca pikiran. Lewat bahasa tubuh, kita bisa mengetahui emosi dasar seseorang. Peneliti menemukan bahwa ketika seseorang mengamati gerak tubuh orang lain, mereka dapat mengenali emosi sedih, marah, gembira, takut dll, bahkan ketika pengamatan hanya dilakukan dengan pencahayaan yang minim.


Ekspresi wajah juga merupakan penanda bagi kita untuk dapat mengetahui apa yang dipikirkan orang lain. Namun sayangnya, banyak dari kita yang tidak mampu untuk mendeteksi ekpresi ini. Salah satu sumber yang kaya akan penanda ini adalah mata seseorang; otot-otot di sekitar mata. Mata seseorang adalah sumber penanda yang paling kaya jika dibandingkan bagian lain yang ada di wajah. Contohnya: mata yang turun ketika sedih, terbuka lebar ketika takut, terlihat tidak fokus kala sedang berkhayal, menatap tajam penuh kecemburuan, atau menatap sekitarnya ketika tidak sabar.


Kita dapat semakin tahu pikiran orang lain dari komponen-komponen dalam percakapan—kata-kata, gerak tubuh, dan nada suara. Namun diantara ketiganya, Ickes menemukan bahwa isi pembicaraan menjadi komponen terpenting dalam membaca pikiran dengan baik.


Menjadi Pembaca Pikiran Ulung
Lalu, bagaimana kita bisa menjadi seorang pembaca pikiran yang lebih baik? Tim dari Psychology Today telah merumuskan beberapa hal yang bisa membantu kita membaca pikiran.


Kenalilah orang lain. “Kemampuan membaca pikiran akan meningkat, semakin kita mengenal lawan bicara kita,” kata William Ickes. Jika kita berinteraksi dengan seseorang selama kurang lebih sebulan, kita akan lebih mudah untuk mengenali apa yang ia pikirkan dan rasakan. Hal tersebut dapat terjadi karena: kita mampu mengartikan kata-kata dan tidakan orang lain dengan lebih tepat, setelah mengamatinya dalam berbagai situasi; kedua, kita mengetahui apa yang terjadi dalam hidup mereka, dan mampu menggunakan pengetahuan itu untuk memahami mereka dalam konteks yang lebih luas.


Minta umpan balik. Penelitian menunjukkan bahwa kita dapat meningkatkan kemampuan membaca dengan cara menanyakan kebenaran dari tebakan kita. Misalnya, “Saya mendengar, sepertinya Engkau sedang marah. Benar tidak?”


Perhatikan bagian atas dari wajah. Emosi yang palsu, biasanya diungkapkan pada bagian bawah wajah seseorang. Sedangkan, menurut Calin Prodan—profesor neurologi di University of Oklahoma Health Sciences Center, emosi utama bisa dilihat dari sebagian ke atas wajah, biasanya di sekitar mata.


Lebih ekspresif. Ekspresivitas emosi cenderung timbal balik. Ross Buck, “semakin kita ekspresif, semakin banyak pula kita akan mendapat informasi mengenai kondisi emosional dari orang lain di sekitar kita.”


Santai. Menurut Lavinia Plonka, pengarang Walking Your Talk, seseorang cenderung “menyamakan diri” dengan lawan bicaranya melalui postur tubuh dan pola napas. Jika anda merasa tegang, teman bicara anda bisa saja, secara tak sadar, menjadi tegang pula lalu terhambat, dan akhirnya menjadi sulit untuk dibaca. Ambillah napas panjang, senyumlah, dan coba untuk menampilkan keterbukaan dan penerimaan kepada siapapun yang bersama anda.


Tinjauan Kritis
Perlu kita ingat, bahwa ekspresi emosi bisa berbeda di berbagai budaya. Ekspresi sedih di satu budaya, bisa jadi diinterpretasikan sebagai emosi lain di budaya lain. Jadi jika ingin membaca seseorang, kita perlu memperhatikan pula unsur budaya yang berlaku di tempat tinggal orang itu, jangan sampai salah menebak, atau bahkan memicu terjadinya kesalahpahaman.


Kita juga tak bisa mengesampingkan fenomena membaca pikiran ini sebagai sebuah fenomena yang biasa diasosisasikan dengan kemampuan supranatural, sebab percaya tidak percaya, memang ada orang-orang yang memiliki kemampuan untuk membaca pikiran yang sulit dijelaskan ilmu pengetahuan. Setidaknya penulis telah menemukan beberapa orang dengan kemampuan membaca pikiran, yang bahkan mampu melihat masa depan dan berbagai macam hal yang sulit diterima nalar.


Sumber Pustaka


Mind Reading – Psychology Today
How To Be a Better Mind Reader – Psychology Today


Sumber