Gold Price

Category

ACCOUNTING (1) AUTOMOTIVE (4) COMPUTER (82) EBOOK (1) ELECTRONICS (5) ENVIRONMENT (1) FINANCIAL (1) HEALTH (265) INFO (6) LAW (1) MANAGEMENT (8) MOBILE DEVICES (14) MORAL STORIES (62) NETWORK (2) OTHERS (24) PHILOSOPHY (1) PSYCHOLOGY (19) SCIENCE (6)

Search This Blog

Showing posts with label MANAGEMENT. Show all posts
Showing posts with label MANAGEMENT. Show all posts

Sunday, October 21, 2012

Cara Bertransformasi Dengan NLP


Sumber

Pada dasarnya setiap orang ingin berubah, menjadi lebih baik, lebih positif, atau lebih sukses dan lebih sukses lagi dari sebelumnya. Proses perubahan tersebut biasanya kita sebut sebagai proses transformasi, menuju pencapaian ‘keinginan’ manusia. Dalam proses transformasi inilah manusia seringkali dihadapkan pada berbagai masalah dan hambatan. Untuk itu banyak cara dan pendekatan, serta  pengetahuan yang dilakukan manusia untuk membantunya memecahkan masalah dan hambatan tadi. Nah, yang sangat populer saat ini adalah metode NLP. Berikut  akan saya uraikan secara ringkas apa dan bagaimana NLP itu membantu manusia dalam bermetamorfosa.
Apakah NLP Itu ?
NLP atau Neuro Linguistic Programming, merupakan suatu pengetahuan yang relatif baru mengenai “manusia” yang diformulasikan pertamakalinya oleh Richard Bandler (yang saat itu adalah mahasiswa psikologi dari University of California)  dan John Grinder (yang saat itu adalah seorang ahli linguistik) pada tahun1972 sampai 1975NLP disebut juga sebagai sebuah teknologi berpikir dan berperilaku yang pada mulanya diciptakan dan dikembangkan  dengan memodel beberapa psikoterapis terkenal, seperti  Milton Erickson dan Virginia Satir, serta Fritz Perls.  Di samping itu, NLP juga dipengaruhi oleh seorang Antrolopologis, Gregory Bateson.   Hasil karya Bandler-Grinder dituangkan dalam buku-buku awal mereka, seperti  ‘The Structure of Magic I dan II’, ‘Frogs Into Princess’, dan ‘Reframing’.
Sekarang NLP telah semakin disempurnakan, bahkan telah menjadi suatu pengetahuan yang sangat dikenal di seluruh dunia. Pada saat ini definisi NLP sudah semakin meluas, di antaranya yang sering dikemukakan mengenai NLP adalah:
  • The science of how the brain codes learning and experience.
  • The study of the structure of subjective experience.
  • An attitude and a methodology that leaves behind a trail of techniques
  • A revolutionary approach to human communication and development.
  • An accelerated learning strategy for the detection and utilization of patterns in the world.
  • A system for describing, restructuring, and transforming a person’s meaning and cognitive understanding of the world they live in.
  • A user’s manual for the brain.
Dari uraian di atas, maka dapat dimaknai bahwa NLP adalah salah satu metodologi untuk memahami pikiran manusia.
NLP tidak fokus pada bingkai masalah, tapi  pada bingkai solusi.  NLP fokus bukan pada kebenaran sebuah konsep, teori, atau belief, tapi pada  kegunaannya. Dengan prinsip sederhana inilah,  proses transformasi hidup Anda justeru jauh lebih efektif. Setelah mengenal NLP, Anda akan lebih fokus memikirkan bagaimana sesuatu itu berguna untuk membantu Anda mencapai tujuan hidup Anda, dan juga bagi orang lain.  NLP sangat menekankan padaoutcome atau hasil yang ingin dicapai.  Inilah yang menurut Bandler membedakan NLP dengan psikologi terapan konvensional. NLP tidak menghabiskan waktu untuk menggali masalah, latar belakang, penyebab, kenapa, dan lain-lain.  Kalaupun harus melihat ke belakang untuk menyelesaikan masalah, NLP hanya tertarik melihat ‘bagaimana’ masalah ini terjadi, lalu fokus pada struktur masalahnya untuk bisa diintervensi.
Pada saat kita ingin fokus pada outcome, kita fokus pada semua sumber daya yang mungkin untuk membantu kita untuk menujuoutcome.  Pada akhirnya, dalam menuju outcome, NLP juga menganjurkan tingginya fleksibilitas kita, dan memperluas pilihan-pilihan kita.
Program-program NLP
Sejak diperkenalkan pertama kali, NLP telah diajarkan melalui berbagai program pelatihan, di berbagai bidang.  Di bidang bisnis, terapi, manajemen, kepemimpinan, komunikasi, dan lain-lain.   Berbagai institusi menawarkan berbagai program, termasuk program untuk  praktisi berkompetensi khusus melalui program Praktisi bersertifikasi. Selain itu beberapa institusi, juga menawarkan program aplikasi NLP yang bisa  di-customized sesuai kebutuhan organisasi.
Peta Perilaku
NLP percaya bahwa setiap orang mempunyai keunikan.  Tidak ada yang sama  persis.  Kita tidak bertindak dan berpikir berdasarkan realita, tetapi hanya berdasarkan pada persepsi kita pada realita. Peta perilaku kita tergantung dari berbagai hal seperti proses filter di pikiran kita. Dimulai dari deletion, distortion, dan generalization, dimana informasi diseleksi sesuai fokus kita, diartikan, dan digeneralisasi.  Setelah itu di-filter lagi berdasarkanvalues kita, beliefs kita, memori kita, strategi kita, dan Meta Program (preferensi perilaku kita – yang oleh banyak orang dipersepsikan sebagai konsep kepribadian).  Proses ini yang kemudian menghasilkan Peta Pikiran atau Model Dunia kita secara unik. Dari proses di atas, semua orang berhak merasa dirinya benar menurut Peta Pikirannya. Hal ini dimungkinkan  karena semua orang hidup dalam Model Dunia masing-masing.
Presuposisi
Di NLP dikenal apa yang disebut sebagai Presupposition.  Pengertian sederhana mengenai ini adalah prinsip  atau basic belief (keyakinan dasar).  Ini menyangkut kerangka berpikir dan berperilaku.  Sesuatu yang kita pergunakan sebagai dasar dari pikiran dan tindakan. Dari tahun ke tahun,  presuposisi tersebut terus dikembangkan. Salah satu presuposisi misalnya, ‘The Map is not the territory’ yang berarti bahwa yang kita lihat, dengar, dan rasakan, tidak mewakili keadaan atau realita.  ‘There is no failure, only feedback’misalnya, menekankan pada fleksibilitas sikap untuk menerima apa yang  biasanya dianggap sebagai kegagalan, hanya sebagai masukan agar kita mengganti pendekatan kita di kemudian hari.
Tools NLP
NLP disebut juga sebagai teknologi, karena NLP mempunyai berbagai tools yang berguna. Semuanya bertujuan untuk membantu efektifitas kita. Membangun ‘Rapport’ adalah salah satu yang populer untuk berkomunikasi secara efektif.  Meta Model yang merupakan tool untuk berkomunikasi secara spesifik. Meta Programuntuk memahami pola pikir dan motivasi seseorang.  Neurological Level untuk memetakan cara berpikir, termasuk masalah dalam pola pikir dan sikap. Selama bertahun-tahun, berbagai tools NLP telah dikembangkan. Ada ‘Parts Integration’‘Fast Phobia Cure’,‘Anchor’, ‘Perceptual Position’, dan lain-lain.  Semuanya bertujuan membantu efektifitas pikiran dan perilaku kita.
NLP dan Hypnotherapy
Telah dijelaskan di atas,  pada saat NLP diciptakan, Bandler dan Grinder banyak memodel tiga orang tokoh di bidang ‘perubahan pikiran’ melalui hypnosis, yakni Milton Erickson, Virginia Satir dan Fritz Perls.  Akibatnya warna linguistik hypnosis dalam NLP  memang kental di beberapa tools NLP, karena pengaruh ini.   Walau awalnya diciptakan dengan memodel hypnosis, kini hypnosis justru jauh lebih efektif apabila dilengkapi dengan tools NLP.  Keduanya sekarang menjadi kesatuan yang harmonis.

Cara Membangun Komunikasi Efektif dengan Aplikasi NLP


Sumber

Inti dari komunikasi adalah pesan yang disampaikan, sedangkan nilai sebuah pesan yang efektif adalah respon penerima pesan tersebut, sehingga kalau boleh saya meringkasnya dalam sebuah rumus, maka Ke = f (P X R)
Komunikasi adalah bagian terpenting dalam kehidupan kita. Komunikasi dapat menyelesaikan banyak masalah penting dalam kehidupan sehari-hari kita. Namun sebaliknya, komunikasi yang tidak efektif, dapat menimbulkan masalah besar. Sebuah keluarga menjadi harmonis karena komunikasi yang berjalan baik antar anggotanya, juga sebuah keluarga bisa menjadi berantakan, karena komunikasi yang buruk antar anggota keluarga tersebut. Komunikasi bisa terjadi antara satu orang dengan satu orang lainnya (single communication), dan antara satu orang dengan banyak orang (public communication). Inti dari komunikasi adalah pesan yang disampaikan, sedangkan nilai sebuah pesan yang efektif adalah respon penerima pesan tersebut, sehingga kalau boleh saya meringkasnya dalam sebuah rumus, maka Ke = f (P X R), dimana Ke=komunikasi efektif;P=pesan yang sampaikan; dan R=respon dari penerima pesan. Jika kita mendapat respon negatif (-), maka komunikasi akan menjadi negatif alias tidak efektif atau gagal. Dalam tulisan ini saya akan mencoba berbagi bagaimana membangun komunikasi efektif dengan menerapkan metode NLP untuk membangkitkan potensi Anda dalam berkomunikasi.
Dari sudut pandang NLP, penyampaian sebuah pesan bisa menjadi berlipat ganda efeknya apabila memanfaatkan tiga dimensi sekaligus, yaitu yang dikenal sebagai tiga V (3V):
  1. Verbal: Bagaimana kata perkataan disusun; keruntutan logika dan pemilihan kata.
  2. Vocal: Bagaimana mengatakan; intonasi, jeda, volume dan berat suara.
  3. Visual: Bagaimana bahasa tubuh si pembicara; ekspresi muka, penggunaan gerakan tangan dan sebagainya.
Ketiganya apabila dipergunakan secara sinergis akan melipatgandakan kekuatan pesan, sedangkan jika tidak sinergis alias saling bertabrakan akan membuat pesan menjadi hilang kekuatan sama sekali. Misalnya, seseorang mengatakan bahwa ia sangat demokratis, terbuka pada ktitik, usul atau perbedaan pendapat. Tapi saat ia mengatakan demikian tangannya terlipat, dengan muka berkerut dan tanpa senyum.  Bagaimana responnya? tak satu pun orang akan percaya mengenai apa yang dikatakannya. Tujuan mengemas pesan itu mirip dengan mengemas produk, yaitu bagaimana supaya tampilannya lebih menarik bagi pihak lain yang tengah dipengaruhi. Dari ketiga dimensi di atas (3V) dalam kesempatan ini hanya akan dibahas satu dimensi saja yakni dimensi verbal. Sedangkan kedua dimensi yang lain (Vocal dan Visual) akan saya tulis di kesempatan lain. Komponen penting dalam dimensi verbal ini meliputi teknis mengemas pesan yang disebut sebagai Teknik Framing dan Reframing serta penggunaan Bahasa SugestifNLP yang berbasis pada Hypnotherapy script. Kita akan membahas teknik Framing dan Reframing terlebih dahulu, sedangkan Bahasa Sugestif NLP akan dibahas terpisah.
Sebenarnya fenomena pengemasan pesan merupakan kejadian sehari-hari. Contoh yang paling banyak melakukan ini adalah para pengiklan, motivator, politisi dan pembicara seminar, atau presenter lainnya. Dengan bantuan NLP ini sekalipun Anda tidak merasa memiliki bakat-bakat seperti mereka, kita akan memodel keunggulan mereka untuk membangkitkan potensi komunikasi Anda. Inilah kekuatan NLP, suatu pendekatan untuk memodel keunggulan orang sehingga bisa diduplikasikan secara sistematis oleh orang lain yang (merasa) tidak memiliki bakat sebelumnya.
DIMENSI  VERBAL
Adalah apa yang dikatakan oleh seseorang, dalam komunikasi tertulis bisa dimaknakan sebagai apa yang dituliskan dengan kata-kata. Cukup banyak teknik NLP yang menunjang optimalisasi verbal ini, sejumlah yang akan kita pelajari di sini antara lain:
  • Framing dan Reframing (membingkai kalimat)
  • Milton Model (penggunaan kalimat sugestif/hipnotik, termasuk di dalamnya cara memoles data statistik)
  • Meta Model (penggunaan kalimat klarifikatif).
Dalam artikel ini khusus akan dibahas mengenai teknik Framing dan Reframing, teknik Lainnya, insya Allah akan dibahas di artikel yang lain.
FRAMING
Framing adalah proses dengan sengaja membingkai suatu kalimat agar maknanya sesuai keinginan komunikator (mengeset makna). Misalnya kita hendak menyampaikan suatu berita, secara alami berita itu tidak mengenakkan/tidak memberdayakan, maka kita perlu membingkainya dengan cara mengatakan dari sudut pandang yang lebih mengenakkan hati/memberdayakan. Contoh: Coba kita ingat ketika di zaman Orde Baru, jika pemerintah ingin mengatakan “harga suatu barang naik”, maka mereka mengatakan “harganya disesuaikan”. Kata harga naik, secara otomatis menimbulkan rasa tidak berdaya, kurang senang dan resistensi. Sebaliknya kata disesuaikan lebih bermakna positif karena menuju ke arah yang baik (sesuai).
Jenis Framing
Ada beberapa jenis framing penting yang bisa kita pakai di dalam konteks komunikasi:
  • Agreement Frame (AF) Sebuah cara membingkai pesan, diawali dengan cara sebelumnya menggiring kondisi pikiran pihak lain untuk masuk ke pikiran setuju, kemudian baru dibawa ke arah isu yang mau ditiupkan. Dilakukan dengan cara membicarakan suatu topik apa pun yang sudah disepakati secara bersama sebelumnya atau membingkai sesuatu hal dengan kata-kata tertentu yang membuat pihak lain cenderung lebih setuju. Contoh di atas yang dilakukan Orde Baru adalah menggunakan agreement frame, karena kata “disesuaikan” akan memicu rasa setuju, sedangkan harga dinaikkan akan memicu rasa menolak. Contoh lain: “Bertolak pada pemahaman kita bersama bahwa fungsi utama DPRD adalah untuk …….., maka kedatangan kami di sini adalah dalam rangka ….”
  • Outcome Frame (OF) Merupakan varian dari agreement frame, pembingkaian dilakukan dengan cara membatasi pembicaraan dalam ruang lingkup hasil yang ingin dicapai bersama. Perbedaannya dengan agreement frame adalah, untuk outcome frame adalah membicarakan hasil yang belum terjadi dan ingin dicapai, sedangkan agreement frame adalah membicarakan tentang topik yang sudah terjadi. Contoh OF: “Tentunya kita sepakat bahwa hari ini kita memiliki tujuan yang sama dalam pertemuan ini, yakni menghasilkan kemaslahatan umat, dengan demikian ….”
  • Contrast Frame (CF) Sebuah bingkai pesan yang menggunakan pendekatan ujung-ujung ekstrem suatu permasalahan. Hal yang baik dilawankan dengan keburukannya, sesuatu yang menguntungkan dilawankan dengan kerugian yang mungkin muncul, isu besar dilawankan dengan efeknya yang hanya kecil, dan sebagainya. Tujuannya adalah untuk menunjukkan efek kontras dari sebuah pemikiran/keputusan. Contoh CF yang paling terkenal adalah cost benefit analysis , yang melihat kontras antara keuntungan dan kerugian yang diperoleh jika menyetujui dan jika menolak.
  • As If Frame (AIF) Sebuah pembingkaian pesan dengan cara membuat pihak lain dibawa “seolah-olah merasakan dan mengalami sendiri suatu persoalan” sehingga mereka akan bisa berempati dengan suatu isu atau pesan yang disampaikan. Contoh: “Jika Anda sendiri yang menghadapi permasalahan semacam ini, apa yang akan Anda lakukan?” Selain keempat framing populer di atas, kita bisa mengembangkan berbagai frame lain sesuai dengan situasi dan kondisi setempat. Intinya adalah, pengemasan sebuah pesan sehingga memiliki nilai tertentu yang ditambahkan sehingga lebih dari sekedar nilai awalnya. Salah satu framing yang kerap dipakai adalah framing “manusia biasa”, framing ”Bangsa Timur yang berbudaya”, framing “Bhinneka Tunggal Eka” dan lain-lain. Hati-hati dalam memilih framing, jangan sampai menjadi demikian pasaran atau terkesan “basi”. Apapun bentuk framing yang dipakai, pada gilirannya harus membuat pesan tersebut menjadi terlihat, terdengar, dan terasa menguntungkan bagi penerima pesan.
REFRAMING
Saat kita menjumpai suatu hal sudah dimaknakan (oleh lawan bicara) secara merugikan (keberatan yang berbentuk pandangan negatif, kesan tidak berdaya, menyerang, dll), maka kita dapat melakukan framing ulang suatu kalimat. Proses ini yang disebut reframing. Proses reframing adalah secara sengaja membingkai ulang suatu kalimat sehingga memiliki makna yang betul-betul berubah secara dramatis. Dengan demikian dapat dikatakan, reframing dilakukan untuk memberikan makna ulang yang berbeda, dengan tujuan agar:
  • Punya perspektif yang berbeda
  • Punya pilihan tindakan lain
  • Lebih membesarkan hati
  • Positif thinking
  • Terlepas dari keterikatan makna.
Jadi dalam hal ini, kita menggunakan reframing untuk tujuan Menghadapi Keberatan dari pihak lain saat kita mengedepankan satu pesan penting.
JENIS REFRAMING
Ada dua jenis reframing, yakni:
1. Context Reframing Mengubah kontek suatu peristiwa, sehingga terjadi pergeseran makna.
Kalimat: “Anak saya kok suka ngeyel.”
Reframing: “Nggak apa, pada saat menghadapi penipu, maka kesukaannya ngeyel akan berguna untuk menyelamatkan diri.”
2. Content Reframing Mengubah makna suatu peristiwa secara langsung, ditandai dengan kata “artinya”. •
Kalimat: “Anak saya kok suka ngeyel. ”
Reframing: “Ngeyel artinya kemampuan verbalnya berkembang baik.”
Nah, selamat meningkatkan potensi diri Anda dengan NLP!
Dari berbagai sumber
(BERSAMBUNG)

Tuesday, May 22, 2012

Stephen Lundin: The Fish! Philosophy


Stephen Lundin: The Fish! Philosophy

Stephen Lundin, creator of the Fish! Philosophy, visited Australia and New Zealand for the first time in March 2003.
In my late teens and early 20s I worked at Camp Courage, a summer camp for children with severe physical challenges. As National Marketing Director, Presidential Exchange Fellow, Executive VP of Consulting, and Business School Dean, I visited hundreds of work settings, but Camp Courage remained number one in terms of energy, fun and simple joy. Some of the places I visited could only be described as toxic energy dumps. I began to wonder if there was something about modern organisations that makes a high-quality work life unattainable. I began searching for an image to help me understand what was possible at work.
The Market
After finishing a film shoot on Whidby Island, my colleague and fellow filmmaker, John Christensen, decided to see the sights of downtown Seattle. So it was as a tourist that he encountered the most wholehearted and energetic workplace he had ever experienced: The World Famous Pike Place Fish Market. Two best-selling films and two best-selling books (titled Fish! of course) later, we have come to realise how deeply the work world longed for an image of a place where fun, joy, energy, productivity and incredible teamwork drive out stress, boredom, toxic energy and burnout.
The Fish! Philosophy
When we entered the fish market, we tried to capture on film what the fishmongers did naturally. Two films later we had an exciting formula that would allow any team to create the incredible atmosphere we discovered in Seattle. We call it the Fish! Philosophy. and the following are the four guiding principles.
Play
The fishmongers of Pike Place Fish Market are known around the world for throwing and catching large slippery fish, to the delight of their customers. It is one of the many ways they play.
You and I might do serious work and we take that work seriously, but we can choose not to take ourselves too seriously. The advanced team understands how to harness the power of fun to lighten the atmosphere and create an environment that nurtures innovation.
Make Their Day
On entering the market you could think you were just being entertained. Wrong. The fishmongers are dedicated to making your visit memorable, and they do that by finding ways of making the customer's day. You may find yourself catching a fish or being involved in a harmless practical joke.
Our work days are full of opportunities for making the day of our customers and our fellow team members; a small kindness or remembering a name; a word of support during difficult times. When you "make someone's day" you are focused on serving another. The advanced team has a bond that can be created only by serving customers and one another.
Be There
The fishmongers have discovered the power of focusing on one person and one thing at a time.
As David Whyte puts it in one of his stories, the antidote to burnout is not necessarily rest - it is wholeheartedness. It is the halfhearted things you do while juggling other things that wear you out. When advanced team members interact they are not just physically present, they are wholeheartedly present.
Choose Your Attitude
At the market there is a great deal of discussion about choice - a reminder of what the fishmongers have discovered: you choose your attitude. If you find yourself with an attitude you don't want, you can choose another.
Members of advanced teams understand and discuss the notion that each member has the power to choose his or her attitude, and that each is responsible for that choice.
Why not try some Fish! for a better life at work? Your team will thank you.

Sunday, July 25, 2010

Kunci Sukses Google: Mengikuti 10 Aturan Emas


google-lego-logo

Bagaimana mengoptimalkan kinerja para pekerja ilmu (knowledge workers) adalah kunci bagi kesuksesan bisnis pada seperempat abad yang akan mendatang. Bagaimana hal ini dilakukan pada Google?

Manajerial Google selalu berpikir, bahwa guru bisnis Peter Drucker sangat memahami bagaimana mengoptimalkan kinerja para pekerja ilmu. Drucker menciptakan istilah ini pada tahun 1959. Pekerja ilmu dalam definisi ini, berbeda dengan pegawai biasa. Dia berpendapat, bahwa pekerja ilmu percaya bahwa mereka dibayar untuk efektif, dan bukan untuk bekerja dari jam 9 sampai jam 5. Lebih jauh lagi, menurut Drucker, bisnis yang cerdas akan mengoptimalkan kinerja pekerja ilmu mereka secara maksimal. Mereka yang sukses, akan bisa bertahan paling tidak sampai 25 tahun yang akan mendatang.

Google mampu melihat keunggulan tersebut. Perdebatan yang berkelanjutan apakah perusahaan besar melakukan mismanajemen terhadap pekerja ilmu mereka adalah hal yang sangat diperhatikan oleh Google, sebab siapapun yang tidak menangani hal ini dengan baik, maka ia akan punah. Google telah mendapatkan ide baik yang diinspirasikan dari pihak luar, dan ditambah beberapa ide dari Google sendiri. Apa yang berhasil ditemukan, adalah sepuluh prinsip utama untuk memaksimalkan efektivitas pekerja ilmu. Hal demikian juga diterapkan oleh sebagian besar perusahaan teknologi lain, namun ada beberapa hal yang akan diberi garis bawah berbeda.

  1. Rekrut melalui komite. Hampir setiap pekerja yang melewati fase interview di Google berbicara paling tidak dengan enam interviewer, yang berasal dari pihak manajemen, atau kolega potensial mereka sendiri. Pendapat dari semua pihak dipertimbangkan, membuat proses rekrutmen menjadi lebih adil dan meninggikan standar. Memang memerlukan waktu lebih panjang, namun Google tetap melakukannya. Jika kita memperkerjakan orang-orang hebat, dan melibatkan mereka secara intensif pada proses rekrutmen, maka kita akan dapat orang-orang hebat lebih banyak lagi. Google memulai membangun “positive feedback loop” ini ketika mulai membangun perusahaan, dan ternyata setimpal.
  2. Penuhi semua kebutuhan pekerja. Seperti yang dikatakan Drucker, yang harus dilakukan adalah mengoptimalkan kinerja pekerja ilmu mereka secara maksimal. Google menyediakan berbagai fasilitas hidup sehari-hari, seperti tempat makan, gym, ruang cuci baju, ruang pijat, barbershop, cuci mobil, bus transpor, dan berbagai hal lain yang bisa diingikan oleh insinyur pekerja keras.
  3. Bekerja dalam tim. Hampir semua proyek pada Google adalah proyek tim, dan tim harus dapat berkomunikasi. Cara terbaik untuk membuat komunikasi mudah adalah memberikan ruang bagi anggota tim untuk sedekat mungkin dengan yang lain. Hasilnya adalah, hampir semua orang pada Google saling membagi ruangan kantor. Dengan cara ini, ketika programer perlu berdiskusi dengan koleganya, ada akses langsung: tidak perlu menelpon, tidak ada delay email, dan tidak perlu menunggu respon. Tentu saja, ada banyak ruang konferensi yang dapat digunakan untuk diskusi secara detail, sehingga kolega mereka yang lain tidak terganggu. Bahkan CEO harus berbagi ruang kantor selama beberapa bulan di Google, setelah ia menjabat. Duduk dekat dengan pegawai yang cerdas adalah pengalaman edukasi yang sangat efektif.
  4. Buatlah kordinasi mudah. Karena semua anggota tim berdekatan satu sama lain, adalah sangat mudah untuk mengkordinasikan proyek. Selain kemudahan jarak fisik, Google mengirim reminder email setiap minggu kepada tim, untuk menjelaskan apa yang telah dilakukan anggota time selama seminggu. Ini adalah cara mudah untuk melacak apa yang dilakukan orang lain, membuat lebih mudah untuk memonitor hasil dan mensinkronisasikan alur kerja.
  5. Berikan fasilitas secara internal. Pekerja Google menggunakan tools perusahaan secara intensif. Tools yang paling jelas adalah Web, dengan halaman web internal untuk hampir seluruh proyek dan pekerjaan. Mereka diindeks dan tersedia untuk peserta proyek, sesuai dengan kebutuhan. Google juga melakukan ektensifikasi untuk managemen informasi, yang pada akhirnya digulirkan sebagai produk. Sebagai contoh, salah satu contoh dari kesuksesan Gmail adalah ia telah diuji secara beta pada perusahaan dalam jangka waktu cukup lama. Penggunaan email adalah sangat kritis dalam organisasi, maka itu Gmail harus disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan dari pekerja ilmu kami.
  6. Doronglah Kreativitas. Insiyur Google dapat menggunakan 20 persen waktu mereka untuk proyek yang mereka pilih. Tentu saja, ada proses persetujuan dan beberapa masukan. Namun pada dasarnya Google ingin memberikan peluang bagi orang yang kreatif, untuk menjadi kreatif. Salah satu dari rahasia umum Google, adalah mailing list ide; suatu kotak saran bagi seluruh perusahaan dimana orang dapat memposting ide mulai dari prosedur parkir mobil sampai ke aplikasi ‘killer’ selanjutnya. Software ini memperbolehkan semua orang untuk berkomentar dan menilai ide-ide, dan menjadikan ide yang terbaik untuk diaplikasikan.
  7. Berjuang untuk mencapai konsensus. Mitologi korporasi modern menjadikan decision maker unik sebagai pahlawan. Google mengikuti pandangan bahwa ‘lebih banyak adalah lebih cerdas daripada lebih sedikit’, dan berusaha menjajaki beberapa pemikiran, sebelum mencapai keputusan apapun. Pada Google, peranan dari manajer adalah agregator akan banyak pandangan, bukan diktator. Membangun konsensus kadang memerlukan waktu lebih panjang, namun menghasilkan tim yang lebih berkomitmen dan keputusan yang lebih baik.
  8. Jangan berbuat jahat (Don’t do evil). Banyak yang telah ditulis mengenai slogan Google yang satu ini, namun Google benar-benar berusaha untuk mengikutinya, terutama pada tingkat manajemen. Sama seperti organisasi yang lain, orang-orang sangat berhasrat untuk mengemukakan pandangannya secara terbuka. Namun tidak ada seorangpun yang bertindak kasar di Google. Atmosfir penuh toleransi dan penghormatan, adalah hal yang berusaha diciptakan di Google, bukan perusahaan yang penuh dengan ‘yes man’.
  9. Data mengendalikan keputusan. Pada Google, hampir semua keputusan adalah berdasarkan analisis kuantitatif. Google membangun sistim untuk mengatur informasi, tidak hanya pada internet, namun juga secara internal. Google memiliki berlusin-lusin analis yang dapat memformat data, melakukan analisis metrik performans, dan memplot trend untuk menjaganya semakin up to date. Google memiliki ‘dashboard online’ terhadap setiap bisnis yang dikerjakan, yang dapat memberikan snapshot secara up to date terhadap posisi Google.
  10. Berkomunikasi secara efektif. Setiap jumat, Google mengadakan pertemuan untuk memberikan pengumuman, perkenalan, dan sesi tanya jawab (Tentu juga dengan buffet dan coffe break). Hal ini menjadikan manajemen untuk tetap mengetahui apa yang dipikirkan oleh para pekerja ilmu, demikian juga sebaliknya. Google memiliki diseminasi informasi yang sangat luas, dan hanya sedikit kebocoran serius. Kontras dengan apa yang dipikirkan banyak orang, kami percaya bahwa: Pekerja yang dipercaya, adalah pekerja yang loyal.
Kesepuluh poin ini juga diikuti oleh banyak perusahaan Silicon Valley yang lain. Namun ada beberapa masalah yang dihadapi oleh Google, dan juga perusahaan lain.

Satu, adalah ‘arogansi techno’. Insinyur adalah kompetitif secara alamiah dan mereka memiliki toleransi rendah terhadap mereka yang tidak memiliki motivasi atau tidak secerdas mereka. Namun hampir semua proyek engineering adalah proyek tim; memiliki anggota yang cerdas, namun tidak fleksibel dalam tim dapat berbahaya. Jika Google mendapatkan rekomendasi, bahwa orang itu sangat cerdas, namun tidak dapat bekerja sama dalam tim, maka Google tidak akan memberikan posisi apapun kepada mereka. Salah satu alasan untuk interview peer yang ekstensif adalah untuk memastikan bahwa tim sangat antusias dengan anggota tim yang baru. Banyak dari anggota terbaik Google adalah ‘role model’ dalam konteks membangun kerja sama tim.

Masalah lain adalah sindrom ‘jangan dibuat disini’. Seorang insinyur yang baik selalu yakin, bahwa dia selalu dapat membangun sistim yang lebih baik daripada yang telah ada, dan berpendapat ‘jangan sekedar membeli, namun bangulah dari awal’. Mungkin pendapat itu benar, namun Google harus berfokus pada proyek yang menguntungkan. Dalam beberapa kasus ini mengharuskan Google untuk mempertimbangkan tawaran produk dan servis dari perusahaan lain.

Isu lain yang akan dihadapi Google adalah maturasi dari perusahaan, industri, dan angkatan kerja. Google berada dalam pertumbuhan yang sangat cepat sekarang ini, namun hal ini tidak akan berlangsung selamanya. Beberapa dari pekerja Google adalah fresh graduate, beberapa memiliki keluarga dan pengalaman kerja yang ekstensif. Kebutuhan dan kepentingan mereka berbeda. Google harus memberikan keunggulan dan lingkungan kerja yang menarik bagi semua generasi.

Isu final adalah memastikan bahwa selama Google bertumbuh, prosedur komunikasi dapat mengikuti perkembangan organisasi. Pertemuan jumat adalah cukup untuk tim Mountain View (Markas besar Google di California, USA), namun sekarang Google adalah organisasi global.

Google telah berfokus pada pengaturan kreatifitas dan inovasi, namun bukan hanya itu yang penting bagi Google. Operasi harian juga harus diatur, dan itu bukan hal yang mudah. Google membangun infrastruktur teknologi yang lebih besar, lebih kompleks, dan lebih menuntut sumber daya dibandingkan apapun yang ada sebelumnya. Siapapun yang memiliki rencana, mengimplementasikan, dan menjaga sistim tersebut, yang harus bertumbuh untuk memenuhi banyak tawaran, harus mendapatkan banyak insentif juga. Pada Google, operasi adalah hal yang sangat kritis pada sukses perusahaan, dan Google memastikan bahwa usaha dan kretivitas bertumpu pada hal ini, selain pada pengembangan produk.

Diterjemahkan secara bebas dari:
http://www.msnbc.msn.com/id/10296177/site/newsweek/

foto:computercourage.com/

TENTANG PENULIS: ARLI ADITYA PARIKESIT
Arli Aditya Parikesit
Penulis adalah asisten peneliti pada Pusat Kajian Multi Disipliner Bioinformatika, Universitas Leipzig, Jerman. Saat ini menjadi kandidat doktor di institusi yang sama.

Tuesday, July 6, 2010

CONVERTING CUSTOMER SERVICES INTO SALES



Saya yakin anda sering mendengar kalimat ‘Pembeli adalah raja’. Sebuah slogan yang sudah lama digaungkan di dunia bisnis, untuk menggambarkan hubungan antara penjual dan pembeli. Seorang penjual yang sukses harus bisa meyakinkan dan melayani para ‘raja’, calon pembelinya. Meyakinkan bahwa barang dan jasanya pantas untuk dibeli dan dimiliki oleh para ‘raja’ ini. Begitu pun para penjual harus bisa memberikan pelayanan yang memuaskan untuk sang raja. Seandainya sang raja tidak jadi membeli atau hanya sedang mengecek harga, pengalaman dilayani itu akan diingatnya selalu. Dan bisa dipastikan suatu hari nanti para calon pembeli ini akan kembali.

Namun tidak banyak para penjual yang memberikan pelayanan terbaik untuk para pembelinya. Padahal suka atau tidak suka, pembeli telah memberikan kontribusi yang sangat besar dalam mendatangkan pundi-pundi uang untuk keberlangsungan denyut nadi perusahaan. Jika calon pembeli dilayani dengan sebaik-baiknya, bukan tidak mungkin suatu hari nanti mereka akan menjadi pelanggan tetap yang akan menarik pelanggan loyal lainnya melalui ‘Word of Mouth Marketing’ (pemasaran dari mulut ke mulut).

Pernahkah anda memiliki pengalaman buruk sebagai pembeli? Kalau iya, bagaimanakah penjual itu melayani keluhan anda? Apakah anda mau kembali lagi ke tempat itu?

Sepanjang perjalanan hidup saya, tentu saja saya juga pernah dikecewakan oleh penjual yang ‘nakal’. Selain mereka tidak melayani saya dengan baik, produk dan jasa mereka juga sama buruknya. Saya hampir tidak mengerti mengapa ada penjual seperti itu di bumi ini. Apakah mereka tidak tahu bila tidak melayani pembelinya dengan baik akan berakibat pada kelangsungan usahanya? Atau mereka hanya sekedar iseng membuang uang percuma untuk modal usaha yang memang di set hanya untuk jangka pendek?

Saya termasuk tipe pembeli yang ‘ember’. Sekali saya dikecewakan oleh penjual. Maka paling tidak saya akan membicarakannya pada lima puluh orang teman saya. Saya tidak hanya akan menyampaikan kepada mereka, tetapi saya juga akan menularkan kekecewaan saya terhadap penjual itu (resto/ritel/ atau apalah namanya itu) kepada teman-teman saya. Hingga teman saya pun bersumpah untuk tidak akan pernah menginjakkan kaki ke tempat itu. Maka berhati-hatilah anda dengan tipe konsumen seperti saya! Namun saya juga tidak akan segan-segan menyampaikan kepada semua orang yang saya temui tentang kepuasan saya terhadap penjual yang telah melayani saya dengan baik.

Suatu kali saya pernah mengalami hal yang tidak mengenakkan di sebuah pusat perbelanjaan. Selesai memilih barang saya inginkan, saya pun bersiap-siap untuk bertransaksi. Saya memberikan kartu debet saya kepada kasir, yang saya yakin masih ‘baru’. Saya sempat curiga, karena sang kasir tampak kebingungan dengan menggesek kembali kartu saya saat gesekan pertama tidak mengeluarkan kertas struk.

Saat itu saya tidak ambil pusing. Hingga akhirnya beberapa jam kemudian, dengan didorong oleh rasa penasaran saya yang besar. Saya mengecek rekening bank saya lewat internet banking. Dan benar saja kecurigaan saya terjawab. Ada dua transaksi bernilai sama di tempat yang sama, pada jam yang hanya berbeda kurang dari dua menit. Yup… kartu saya terdebet dua kali. Kontan saja saya kesal.

Saya segera menelepon customer service dari pusat perbelanjaan itu, untuk mengklarifikasi kasus tersebut. Sang customer service menerima saya dengan baik, dan berjanji akan membantu saya. Pada saat yang sama saya juga mengadukan hal tersebut kepada bank penyedia kartu debet saya untuk mempercepat proses. Pihak bank sempat memberikan harapan paling lama dalam jangka waktu lima hari, uang akan kembali ke rekening saya. Saya pun menunggu.

Namun pada kenyataannya uang saya kembali keesokan harinya. Saya senang bukan kepalang. Bukan hanya karena uang saya yang kembali, tetapi saya senang akan cara mereka melayani saya sebagai pembeli. Saya ingin sekali semua orang tahu betapa kedua perusahaan ini telah memperlakukan pelanggannya dengan baik. Maka saya menuliskannya di detik.com

Saya menuliskan setiap detil kejadian hingga ucapan terima kasih saya atas pelayanan mereka. Tak lama setelah tulisan saya dimuat, salah seorang petinggi di pusat perbelanjaan tersebut. Petinggi tersebut sama menuliskan email dan menelepon saya untuk menyampaikan ucapan terimakasih atas tulisan saya yang merupakan ‘word of mouth marketing’ gratis. Bahkan petinggi itu mengundang saya untuk bertemu.

Nah, bisa dibayangkan bila ritel dan bank tersebut tidak mengatasi keluhan saya dengan baik, dan malah tidak mempedulikan saya selaku pelanggan yang sedang kecewa. Kemudian saya menuliskan semua uneg-uneg dan kekesalan saya kepada media online yang dibaca lebih dari ratusan juta orang. Saya yakin itu akan berdampak buruk buat mereka.

Percaya atau tidak bila ‘Word of Mouth Marketing starts from unhappy customers’. Karena ‘unhappy customers are your most profitable talkers’. Promosi gratis yang tidak perlu dibayar.

Saya yakin anda pernah mendengar pengusaha kawakan Bob Sadino, pemilik kerajaan bisnis di Indonesia salah satunya Kem-Chick. Dahulu kala, Bob memulai bisnisnya sebagai satu-satunya penjual telur di kawasan Kemang. Saat itu bisnis Bob belum berkembang. Bob merasa perlu untuk mengembangkan sayapnya sebagai penjual telur di Kemang. Salah satunya dengan berpromosi. Tetapi tentu saja sebagai pengusaha kecil, Bob belum memiliki banyak uang untuk berpromosi. Maka muncullah ide gila dari Bob.

Bob sesumbar dengan mengatakan, ”kalau telur yang saya jual ini busuk 1 butir maka akan saya ganti satu kilo”.

Suatu hari sengaja Pak Bob menaruh sebutir telur busuk diantara beberapa telur yang dibeli oleh salah seorang pelanggannya yang sangat cerewet.

Keesokannya si pelanggan tersebut datang sambil marah-marah kepada pak Bob. Pak Bob malah tersenyum, merasa semuanya berjalan sesuai rencananya. Pak Bob mendengarkan sang pelanggan yang kebetulan ibu-ibu cerewet itu dengan baik. Di akhir, Bob pun memberikan satu kilo telur untuk menggantikan sebutir telur busuk yang dibeli ibu-ibu tersebut.Apa yang terjadi?

Dalam waktu sangat cepat, berita tentang Pak Bob dan telurnya tersiar di seluruh antero Kemang. Karena yang cerewet tadi menceritakan perihal kejadian yang dialaminya kepada setiap orang yang ditemuinya bahwa membeli telur di Pak Bob itu dijamin kualitasnya. Kalau busuk sebutir akan diganti satu kilo. Kontan saja, usaha telur Bob Sadino jadi laris-manis. Siapa sangka bertahun-tahun kemudian usaha telur sederhana miliknya berubah menjadi kerajaan bisnis KemChick?

Lain lagi cerita dari sebuah rumah sakit swasta bertaraf Internasional yang tempo hari pernah menghiasi headline di setiap media baik cetak, televisi, radio dan bahkan internet. Sebuah kesalahan fatal dari customer service yang tidak bijak mengatasi keluhan salah seorang pelanggannya, hingga akhirnya menjadi boomerang bagi dirinya sendiri. Sang pelanggan yang pernah dijebloskan ke dalam penjara oleh rumah sakit tersebut dengan tuduhan mencemarkan nama baik, malah mendapat dukungan secara nasional.

Tindakan bodoh dari customer service yang tidak becus, berakibat fatal bagi kelangsungan usaha rumah sakit tersebut. Saya yakin ada jutaan orang di luar sana yang akan berpikir seribu kali kalau ingin berobat di rumah sakit tersebut. Saya pun tidak akan mau berobat di sana walau dibayar.

Pada kenyataannya memang tidak banyak pebisnis yang menyadari bahwa customer service mempunyai potensi yang sangat besar untuk menghasilkan uang di dalam suatu perusahaan. Banyak perusahaan yang menganggap customer service tidak ubahnya sebagai sumber biaya (cost centre) dan tidak lebih dari pusat informasi layanan konsumen yang tugasnya menghadapi keluhan dari dari para pelanggan.

Padahal apabila kita mampu memberdayakan customer service kita dengan benar, mereka bisa menjadi potensi yang sangat besar untuk menjadi penghasil keuntungan. Customer service adalah di mana “the moment of truth” terjadi dan di mana loyalitas customer di bangun.

Namun yang terjadi adalah pengkotak-kotakan antara customer services dan sales. Malah terkesan adanya jurang pemisah yang dalam antara keduanya. Masing-masing merasa telah memberikan kontribusi yang besar dalam memberikan profit kepada perusahaan.

Para sales dituntut untuk menjual sebanyak mungkin demi memenuhi target yang telah ditetapkan. Makanya tidak mengherankan bila seorang sales melakukan berbagai cara untuk bisa menjual. Kemampuan ‘merayu’ menjadi hal yang mutlak ada bagi seorang sales. Sedangkan customer services dituntut untuk bisa mengatasi keluhan dan permintaan konsumen sebanyak mungkin agar menjadi puas.

Menurut customer service, ketegasan sales dianggap sebagai salah satu bentuk pemaksaan yang menjual omong kosong belaka. Bahkan terkadang sales terlalu menjanjikan hal yang muluk-muluk kepada client. Dari menawarkan aneka bonus, diskon, hingga terlalu lebay dalam mendeskripsikan barang dagangannya. Setelah sales berhasil menjual barang dagangannya. Maka selesai sampai disitulah hubungan antara sales dan client.

Dan Customer Service harus bekerja ekstra untuk menjawab aneka keluhan pelanggan akibat ‘barang/jasa’ yang dibelinya tidak sesuai dengan harapan. Customer Services harus mati-matian memutar otak untuk menyelesaikan segala macam keluhan, berempati dengan pelanggannya yang kebetulan dikecewakan oleh sales yang terlalu lebay dalam menjual. Padahal bila customer service dan sales saling bersinergi, bukan tidak mungkin bila penjualan dan keuntungan akan meningkat.

Why sales should listen to service sense of service is a paradigm and commitment of a company to always fulfill the ever changing need?

Ada banyak cara untuk mengubah pelayanan pelanggan (customer service) menjadi penjualan (sales). Semua bergantung dari harapan masing-masing penjual. Apakah mereka hendak meningkatkan penjualan dalam jangka waktu yang pendek, menengah atau panjang.

Pernahkah anda melakukan pemesanan makanan di sebuah restoran melalui telepon? Ketika anda memesan makanan melalui telepon, biasanya customer service akan menanyakan nama dan nomer telepon anda, selain tentu saja makanan yang akan dipesan. Setelah anda menyebutkan pesanan anda, biasanya customer service akan melakukan cross & up selling dengan menginformasikan aneka menu baru atau unggulan. Tujuannya tentu saja untuk menarik minat agar anda juga membeli varian produk yang lain. Namun tentu saja mereka tidak memaksa. Inilah strategi meningkatkan penjualan melalui customer service dalam jangka pendek.

Pada perusahaan tertentu seperti misalkan di perbankan. Customer service atau call centre merupakan garda depan dalam penjualan produk-produk perbankan. Seorang call centre selain dituntut untuk bisa melayani nasabah yang membutuhkan informasi atau pun kecewa, juga harus dapat menjual produk-produk perbankan.

Setiap telepon yang masuk ke call centre baik merupakan enquiry, request ataupun complaint merupakan peluang bagi penjualan produk-produk perbankan. Sang call centre harus bisa menggali informasi tentang kebutuhan dan keinginan para nasabah yang meneleponnya. Seringkali nasabah yang mengeluh tentang bunga kartu kreditnya yang sangat tinggi hingga dia kesulitan membayar, masih bisa dirayu untuk mengambil produk perbankan lainnya, misalkan kredit dengan bunga rendah untuk membayar tagihan kartu kreditnya. Walaupun bank kehilangan sebagian keuntungannya dari bunga kartu kredit, namun sebenarnya bank masih diuntungkan dengan pemasukan bunga kredit yang lebih kecil dari produk pinjaman dana tunai. Istilahnya daripada nasabahnya sama sekali tidak bisa membayar hutangnya.

Bahkan ada beberapa Bank penyedia kartu kredit ternama menyediakan divisi call centre khusus yang disebut retention team. Mereka adalah para call centre di garda terakhir yang berusaha merayu para nasabah yang hendak menutup kartu kreditnya agar tidak jadi menutup kartu dengan aneka tawaran menggiurkan. Kalau perlu nasabah tersebut digiring untuk menggunakan produk lainnya.

Lain lagi yang dilakukan oleh Garuda Indonesia. Pada tahun 2004, saat low cost airline mencuat, dan terjadi perang harga besar-besaran antara maskapai penerbangan, Garuda Indonesia merugi 800 milyar. Garuda Indonesia dipaksa untuk ikut menurunkan harganya demi memenangkan persaingan di antara para maskapai penerbangan baru yang menerapakan harga ‘super duper murah’. Tentu saja hal itu membuat Garuda Indonesia limbung.

Hingga Presdir Garuda Emir Syah Satar menyelamatkan Garuda Indonesia dari keterpurukan. Garuda Indonesia melakukan perombakan total untuk meningkatkan kepuasan pelanggan. Bahkan Garuda Indonesia menetapkan 25 touch point standarisasi pelayanan konsumen, dari mulai pemesanan tiket, naik kabin, hingga setelah mendarat semua ada standarnya. Bahkan senyum para pramugarinya diatur.

Garuda Indonesia menekankan pentingnya pelayanan pelanggan untuk memenangkan kompetisi yang tidak hanya berskala nasional tetapi juga internasional. Dengan mengusung semboyan ‘Full Service Airline’, perlahan tapi pasti garuda Indonesia berhasil mengembalikan masa kejayaannya yang sempat redup. Hingga kini Garuda Indonesia paling tidak mengantongi keuntungan 1 Trilyun dalam setahun. Sebuah prestasi besar yang berangkat dari kesadaran akan pentingnya melayani pelanggan dengan baik.

Saya yakin tidak semua orang suka akan low cost airline, yang hanya menyediakan transportasi udara dengan murah. Saya yakin ada banyak orang yang mengutamakan kenyamanan selama bepergian, termasuk jamuan makan yang nikmat selama di pesawat walaupun mereka harus membayar ‘lebih’ untuk itu. Dan Garuda Indonesia mencoba menerapkan konsep tersebut. And it works!

Kalau boleh dibuat rumusan tentang customer value maka,
Customer Value = (total get/total give) = (functional benefits+emotional)/(price + other expenses)

Nilai pelanggan (Customer Value) adalah jumlah barang/jasa yang diterima pelanggan dibagi sejumlah uang yang dikeluarkan oleh pelanggan untuk membeli barang atau jasa tertentu.

Sedangkan di era kompetisi seperti sekarang ini. Nilai pelanggan adalah sejumlah keuntungan fungsional dan emosional yang diterima oleh pelanggan dibagi harga dan pengeluaran lainnya.

Pelanggan tidak lagi hanya membeli sesuatu dengan kegunaan dasar tertentu. Tetapi pelanggan sebetulnya juga membeli ‘experience’ berbeda (misalkan gengsi), dan mereka rela merogoh kocek lebih dalam untuk itu.

Itulah mengapa Starbuck yang menjual kopi dengan harga selangit tetap dibanjiri pelanggan. Padahal mungkin rasanya tidak jauh beda dengan warung kopi dan café lainnya yang menjual kopi. Karena starbuck memberikan sensasi berbeda kepada pelanggannya. Seperti ada rasa kebanggaan tersendiri ketika anda membeli cappuccino di Starbuck dibandingkan di tempat lain. Coba lihat dari cara orang-orang yang menenteng-nenteng gelas plastik bertuliskan starbuck. Mereka terlihat lebih percaya diri. Dan saya yakin ada banyak di antara mereka yang sengaja meminum sedikit demi sedikit isinya, agar mereka dapat lebih lama memegang gelas tersebut sehingga lebih banyak orang yang melihatnya sedang meminum kopi bergengsi.

Untuk mengintegrasikan penjualan (sales) dan pelayanan (service), suatu perusahaan harus mengetahui dengan jelas siapakah target pasar mereka, dimanakah posisi mereka. Posisi menentukan strategi mereka selanjutnya.

Selama berpuluh-puluh tahun, Toyota berhasil menjadi produsen mobil ‘rakyat’ yang paling popular. Mobil-mobil besutan Toyota terkenal ‘bandel’ dan harganya terjangkau. Ketika akhirnya Toyota mengeluarkan produk premiumnya ‘Lexus’. Mobil dengan harga paling murah di atas satu milyar. Toyota harus bekerja keras membangun image-nya yang sudah terlanjur sebagai produsen mobil-mobil ‘rakyat’ menjadi pembuat mobil-mobil mewah yang kualitasnya setara dengan Mercedes Benz.

Sebagai pemain baru di pasar mobil premium, Lexus cukup tahu diri akan posisinya. Lexus tidak akan mungkin berebutan kue pasar dengan Mercedes Benz. Karena semenjak zaman dahulu kala, lambang kesuksesan dari seorang kaya adalah Mercedez Benz. Setiap orang kaya sedikit, akan segera menghamburkan uangnya demi sebuah Mercedez Benz yang akan mengukuhkan posisinya sebagai orang kaya. Lalu dimanakah Lexus akan bermain?

Nah ini dia uniknya. Lexus ternyata malah mencoba membangun image, “ Orang kaya belum lengkap kalau belum punya Lexus”. Lexus mencoba menyasar kepada orang-orang kaya lama yang sudah memiliki Mercedes Benz untuk memiliki Lexus sebagai cadangan mobil ketiga atau keempatnya.

Dengan mengusung tagline, “The Pursuit of Perfection”, Lexus membangun image-nya sebagai mobil dengan personal luxury experience. Lexus dengan percaya dirinya menganggap setiap mobil besutannya adalah sebuah mahakarya bernilai artistik tinggi yang patut dimiliki oleh para pribadi istimewa. Inilah alasan mengapa Lexus membangun konsep gallery untuk pusat penjualan mobil-mobilnya bukan showroom mobil.

Kalau anda pernah berkunjung ke Lexus gallery di Jakarta. Anda tidak akan pernah menyangka bahwa itu adalah sebuah bangunan yang menjual mobil-mobil Lexus. Karena dari luar hampir tidak tampak deretan mobil Lexus yang dipajang seperti di showroom mobil lainnya. Satu-satunya yang membuat kita berpikir adalah adanya lambang Lexus di luar bangunan resik dan apik yang terkesan sangat elegan itu. Penasaran?

Saat anda masuk, anda akan semakin dibuat tercengang-cengang oleh suasana galeri yang penuh dengan benda-benda seni selain tentu saja mobil Lexus yang terpajang cantik layaknya mahakarya di setiap ruangan.Para kru Lexus yang bertindak seperti para kurator di sebuah galeri seni mahal siap menyambut anda. Tanpa pandang bulu mereka akan melayani anda dengan penuh senyum, mengajak anda melihat-lihat barang koleksinya sambil menceritakan sejarah, dan setiap detil koleksi Lexusnya yang dibuat dengan keakuratan tinggi hingga menghasilkan mahakarya bernilai tinggi. Saya jamin anda akan dibuat terbengong-bengong oleh penjelasan para kurator tersebut. Dan yang paling membuat anda heran adalah di akhir ceritanya, kurator sama sekali tidak akan memaksa anda untuk membeli salah satu mobil itu. Bahkan mereka tidak menawarkan anda. Sepertinya kru Lexus sudah cukup bangga kalau mereka bisa menularkan kebanggaan mereka akan koleksi mobil Lexus yang merupakan mahakarya.

Di Lexus Gallery, anda tidak hanya disuguhkan koleksi mobil-mobil Lexus yang bernilai itu. Kalau anda beruntung, cicipi juga Lexus Cappucino. Sebuah sajian istimewa secangkir kopi cappuccino hangat yang ditaburi choco granule sehingga membentuk lambang Lexus. Anda bisa menikmati kopi lezat tersebut sambil bersantai dengan para kolega bisnis.

Awalnya pendirian Lexus Gallery Indonesia sempat menjadi perdebatan para petinggi Toyota di Jepang. Mereka menganggap Lexus Gallery adalah sebuah ide gila yang tidak akan berhasil. Ternyata anggapan mereka keliru. Lexus Gallery Indonesia menjadi model sukses penjualan Lexus di seluruh dunia. Dan seluruh cabang Lexus di seluruh dunia belajar dari Lexus Gallery Indonesia.

Ada hal unik yang semakin membuat saya tercengang. Lexus yang menempatkan dirinya sebagai ‘branded service’ yang menawarkan personal luxury experience untuk target premium class, tahu benar bagaimana melayani pembelinya sebagai raja. Agar semangat tersebut juga bisa diresapi oleh para kurator-nya (alias sales-marketing), Lexus sengaja mengirim mereka ke Luar Negeri. Bukan untuk training atau belajar tentang Lexus, tetapi untuk mencicipi pelayanan kelas wahid di hotel-hotel paling mahal di dunia. Kelak para pegawai Lexus akan melayani pelanggan yang datang dari premium class. Bagaimana mereka bisa melayani kalau mereka tidak pernah dilayani layaknya premium class. Nah pada kesempatan itu, calon pegawai Lexus diajari bagaimana melayani raja, dari pelayan-pelayan yang melayani mereka di hotel-hotel mewah Luar Negeri.

Lain lagi dengan Adira Finance yang menyasar pada target konsumen dari kelas bawah. Tentu saja Adira menerapkan strategi yang berbeda dengan Lexus dalam menggaet pelanggannya. Toh, pelanggan Adira tidak membutuhkan personal luxury experience yang mahal. Adira memangkas pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu agar harga kredit-nya tidak mahal. Tentu saja corporate culture yang diterapkan Adira juga berbeda dengan Lexus. Dengan strategi tersebut Adira berhasil memiliki 310 cabang, 17.507 karyawan, dan 2,5 juta pelanggan di seluruh Indonesia. Bandingkan dengan Lexus yang hanya memiliki satu Lexus Gallery, dan hanya 531 mobil yang terjual. Perbedaan yang sangat drastis dengan nilai keuntungan yang sudah pasti Lexus lebih banyak.

Kalau costumer service dan sales sama pentingnya dalam suatu perusahaan, perlukah outsource? Pegawai seperti apa yang harus di outsource dan tidak?

Ada pendapat yang mengatakan “Never outsource your core competence”.

Namun ada juga yang berpendapat bahwa tiga tahun adalah titik jenuh dari seorang call centre untuk bekerja. Setelah tiga tahun biasanya seorang call centre sudah merasa sangat bosan dan siap hengkang. Itulah yang menjadi pertimbangan mengapa banyak perusahaan jasa yang meng-outsource kan pegawai call centre yang bertugas sebagai customer service.

Sedang di Zappos.com, call centre atau customer service dianggap sebagai garda depan denyut nadi perusahaan yang harus dikelola dengan baik. Semua karyawan zappos.com adalah pegawai tetap.

Kalau ada yang belum tahu, zappos.com adalah sebuah sebuah situs e-commerce berbasis di Las Vegas Amerika Serikat yang menjual produk berupa sepatu dan fashion lainnya secara online. Tahun lalu amazon.com mengakuisisi zappos.com dengan nilai terbesar sepanjang sejarah akuisisi amazon.com. Amazon membeli zappos.com senilai hampir 1 milyar dolar Amerika Serikat. Sebuah angka yang fantastik untuk sebuah akuisisi. Dan Amazon berani melakukan hal tersebut bukan tanpa alasan. Zappos.com memiliki kinerja yang sangat bagus sebagai e-commerce dengan laba yang besaar.

Kekuatan zappos.com adalah armada customer service-nya. Semua customer service adalah karyawan tetap yang diistimewakan. Begitu istimewanya, sampai semua petinggi di jajaran manajemen zappos.com harus merasakan paling tidak dua minggu menjadi call centre.

Bila di perusahaan kebanyakan membatasi durasi telepon para call centre-nya.Maka di zappos.com, call centre bisa melayani pelanggannya selama mungkin tanpa dibatasi oleh durasi telpon. Call centre zappos.com menempatkan dirinya sebagai partner untuk konsultasi fashion dengan kesabaran luar biasa. Makanya kebanyakan dari pelanggan zappos.com adalah pelanggan loyal.

Konon katanya system perekrutan di zappos.com terbilang unik. Selain zappos.com hanya menerima calon-calon karyawan yang berkualitas. Pada akhir masa training karyawan baru, zappos.com menawarkan uang sejumlah 2000 dolar Amerika Serikat kepada siapa saja yang memutuskan untuk keluar dari zappos.com. Dari situ ketahuan siapa yang ingin bekerja di zappos.com hanya demi uang atau benar-benar dedikasi. Yah kebanyakan orang merasa tidak suka dengan pekerjaannya namun tetap bertahan demi uang. Dan zappos.com tidak mau itu terjadi pada karyawannya Gak lucu kan kalau industri yang mengandalkan customer service, mempekerjakan karyawan yang setengah hati dengan pekerjaannya. Bagaimana mungkin mereka bisa melayani karyawannya dengan baik?

Jadi kalau saya boleh menyimpulkan di sini, yang pertama kali harus dilakukan adalah Tentukan apa posisi perusahaan anda. Kemudian ciptakan corporate culture dan tularkan semangat perusahaan anda kepada karyawan anda. Terakhir sinergikan customer service dan sales untuk mendapatkan keuntungan jangka panjang. Anda tentu tidak mau bukan, kalau perusahaan anda hanya akan bertahan satu atau dua tahun saja.

Apapun perusahaan anda, ingat pembeli, nasabah, client, pelanggan anda adalah raja yang harus dilayani. Bila ada keluhan dari mereka,jangan berkelit, mundur, tak peduli, atau malah saling menyalahkan antara divisi.

Akhir kata selamat mereguk keuntungan dengan melayani pelanggan anda! Karena setiap pelanggan adalah istimewa.

Jakarta, 4 Juli 2010

Risma Budiyani
Sebuah catatan pinggir oleh-oleh dari Marketeers club

(Dilarang menjiplak atau menyalin tulisan ini tanpa seizin atau mencantumkan nama penulisnya).