Gold Price

Category

ACCOUNTING (1) AUTOMOTIVE (4) COMPUTER (82) EBOOK (1) ELECTRONICS (5) ENVIRONMENT (1) FINANCIAL (1) HEALTH (265) INFO (6) LAW (1) MANAGEMENT (8) MOBILE DEVICES (14) MORAL STORIES (62) NETWORK (2) OTHERS (24) PHILOSOPHY (1) PSYCHOLOGY (19) SCIENCE (6)

Search This Blog

Showing posts with label AUTOMOTIVE. Show all posts
Showing posts with label AUTOMOTIVE. Show all posts

Sunday, January 1, 2012

8 Arti Kode Ban pada Kendaraan






Sobat Mungkin selama ini tidak pernah memperhatikan Kode Ban kendaraan-nya. Ternyata setiap Kode Ban dalam Kendaraan memiliki Makna tersendiri dan mempengaruhi kenyamanan dalam mengendarai Kendaraan. Bahayanya, Anda tak tahu kalau ban itu diproduksi tahun berapa. Padahal, tertulis di sisi pinggirnya. Termasuk juga batas kecepatan maksimum yang diperbolehkan. Berikut merupakan Arti kode Ban pada kendaraan Sobat :


1. 215/50 ZR17 95W
Angka dan huruf ini menandakan profil dan kecepatan yang diizinkan. 215 = lebar tapak ban yang menempel ke permukaan jalan, dihitung dari ujung kedua sisi. 50 = ketinggian dinding ban (biasanya ada yang 45, 55, 60 sampai 70). Kalau dalam milimeter perhitungannya, 50 tadi merupakan persentase dari tapak ban. jadi, 50% x 215 menghasilkan (dibulatkan) 106 mm. Adapun ZR17 menunjukkan diameter lingkar roda alias velg. Populer disebut ring 17. 95W = Angka sebagai indeks berat maksimal yang dapat dipikul oleh ban, sedangkan W menunjukkan batas kecepatan maksimal 270 km/jam yang dibolehkan. Kemudian kode lainnya, S=180 km/jam, M=130 km/jam, N=140 km/jam, P=150 km/jam, Q=160 km/jam, R=170 km/jam, S=180 km/jam, V=240 km/jam, T=190 km/jam, U=200 km/jam, dan H=210 km/jam.


2. Manufactured dan Brand
Produsen ban dan nama produknya


3. Made in (Indonesia) dan SNI (Indonesia)
Negara pembuat dan ban sudah melewati batas standardisasi yang ditetapkan di negara sendiri.


4. Logo Segitiga atau TWI (Tread Wear Indication)
Batas pemakaian ban. Biasanya jika diteruskan dengan menarik garis ke arah tapak ban, maka akan ada tanda lainnya, berupa bar yang menghubungkan antarkembang ban. Ketika sudah saling berhubungan, berarti ban sudah tergolong botak dan harus cepat diganti.


5. Racikan Ban
Contohnya, Plies:Tread 2 Polyester 2 DSteel I Nylon, Sidewall 2 Polyester yang bisa menunjukkan kalau tapak terdiri dari 2 polyester, 2 steel dan 1 nylon, sedangkan bagian dinding ban hanya 2 polyester.


6. Production Date
Tanggal pembuatan yang dicetak dalam bentuk lonjong atau elips. Sebanyak 4 angka terakhir di dalam bidang itu menunjukkan ban diproduksi dengan rincian, 2 angka terakhir tahun produksi dan 2 angka awal (di depannya) minggu ke berapa (dalam satu tahun).


7. E Mark
Di beberapa ban, tanda ini menunjukkan di negara mana saja bisa diterima. Semisal E1 bisa diterima di Jerman, E2 Perancis, E3 di Italia, atau E4 Belanda.


8. Kompon Ban
Untuk ban ada jenis komponnya, yakni SS (super soft), S (soft), M (medium), MH (medium hard), dan H (hard). Ban dengan kompon S lebih mencengkeram ke aspal, tetapi lebih cepat aus. Terlebih cara mengemudi tergolong kasar.


Sumber

Sunday, August 14, 2011

AC atau Air Conditioner pada mobil



Tahukah anda sebenarnya AC didalam kendaraan kita bukan menghasilkan udara dingin ? tapi sebenarnya menghisap hawa panas dari dalam mobil kita.....Bingung ??? mudah2an setelah membaca lebih lanjut akan ada pencerahan......


Seperti kita ketahui Ac merupakan komponen yang mengatur temperature udara di dalam kabin mobil kita. AC bekerja dengan beberapa komponen utama antara lain :

  1. Freon
  2. Kompresor
  3. Kondensor
  4. Expansion Valve
  5. Evaporator
  6. Drier/accumulator



1. Freon





Freon merupakan fluida kerja dalam sistem pendinginan AC, Freon adalah jenis fluida refrigant, dipilih karena sifatnya yang dalam tekanan normal (1atm), berwujud gas, dapat dikompresi dan dapat berubah wujud menjadi cair dalam keadaan terkompresi. (bayangin gas di tekan....akhirnya jadi cair karena tertekan..)




2. Kompresor





Sesuai namanya kompresor bertugas sebagai penekan. Apa yang ditekan ? ya itu fluida kerja dalam hal ini freon. Karena kompresor cara kerjanya mirip dengan kompresi pada mesin mobil yaitu menekan bahan bakar pada ruang kompresi, maka kompresor pada umumnya terdiri dari piston dan ringpiston. (ada juga yang sistem rotary). Nah karena isinya piston dan ring piston maka yang di kompresi haruslah freon dalam wujud GAs..kalau cair bisa kejadian water hammer pada bengkok semua..dan patah ring sehernya....
Kompresor di gerakkan oleh mesin dengan penghubung belt.




3. Kondensor





Kondensor : kalau diterjemahin kondensor artinya pengkondensasi


kondensasi artinya perubahan dari wujud gas menjadi wujud cair. Lagi-lagi pemeran utamanya dalam hal ini adalah freon. Bentuknya mirip radiator, letaknya biasanya didepan radiator mesin.




4. Expansion Valve





Valve expansi berfungsi untuk mengekspansi fluida kerja sehingga bertekenan rendah...


Dibayangkan kalau kita naik motor, udah padat, banyak asap, panas terik, motor senggol2an (penuh tekanan)..ketemu bottle neck..(jalan menyempit) terus lewatin jalan sempit itu ketemu jalan lebar....lega rasanya dan tekanan pasti menurun..tingkat stress pasti rendah...
digambarkan ilustrasinya dari sisi merah ke biru pada gambar di atas.


Jadi fungsinya : bukan obat stress tapi menurunkan tekanan fluida kerja.




5. Evaporator





Evaporator ini sesuai dengan namanya berarti komponen yang melakukan penguapan, lagi-lagi tetap freon yang menjadi tokoh utama film berdurasi pendek ini..freon akan berubah wujud dari cair menjadi uap kembali. Nah disinilah bagian yang membuat kabin jadi dingin..oleh karena itu evaporator terletak didalam kabin kendaraan kita.




6. Drier/Accumulator





Berfungsi sebagai penyaring segala jenis kotoran yang mungkin terikut dengan aliran freon, menjaga agar tidak ada uap air yang ikut dalam aliran freon, dan yang paling penting memastikan freon yang masuk ke dalam kompresor dalam wujud gas bukan cair (untuk menghindari terjadinya waterhammer).




Nah sudah kenalan sama tokoh2 utamanya sekarang mari kita lihat filmnya.


Kerja Ac dimulai dengan kompresi freon dalam bentuk gas..freon pada temperatur ruangan dan tekanan ruangan normal berwujud gas, freon ini masuk ke ruang kompresi kompresor mengalami tekanan, ditekan hingga 10kpa (cmiiw), pada proses penekanan freon pasti mengalami pemansan..sehingga meskipun dalam tekanan tinggi freon masih berwujud Gas.


Kemudian freon dalam wujud gas yang bertekanan tinggi ini dialirkan masuk ke kondensor, didalam kondensor Freon temperatur tinggi ini di dinginkan sehingga terjadi kondensasi dimana freon dalam bentuk gas akan berubah wujud menjadi cair. [Sama halnya seperti kita menaruh Gelas berisi air dingin..nanti udara/uap air sekitar yang tadinya berwujud gas berubah menjadi cairan yang menempel pada dinding gelas..], ingat freon dalam tekanan tinggi sehingga sedikit pendinginan(dengan extrafan) saja sudah dapat mencairkan freon.


kalau sudah berwujud cair maka freon sudah siap digunakan dalam proses pengendalian temperatur kabin....
Masuklah freon kedalam expansion valve, Disini freon bertekanan tinggi tadi dialirkan sehingga menjadi bertekanan rendah...namun masih dalam wujud cair. Freon bertekanan rendah dan berwujud cair ini lah yang masuk ke dalam ruang evaporator.


Nah seperti kita ketahui pada tekanan rendah (tekanan ruangan) maka freon itu wajib berwujud gas, Supaya cairan dapat berubah menjadi gas maka perlu pemanasan (seperti masak air dari air menjadi uap butuh panas dari api) Nah freon sama... perlahan2 di ruangan jalur evaporator, freon itu menghisap panas dari luar ruangan sehingga mereka bisa menguap dan berubah menjadi gas kembali.


Karena Panas udara sekitar kabin di ambil oleh freon maka yang kita rasakan adalah udara sejuk yang dingin.......


lah drier kapan actingnya??? nah ada dua sistem yang berbeda mengenai drier ini, ada yang bekerja sebelum masuk expansion valve untuk memastikan bahwa freon yang masuk ke evaporator dalam bentuk cair semua, ada juga yang bekerja setelah evaporator untuk memastikan bahwa semua output dari evaporator yang masuk kembali ke kompresor sudah dalam wujud GAS...
tipe yang terakhir ini yang sering ditemukan dalam sistem AC pada mobil.




Tambahan:









  1. Zat pendingin bertekanan tinggi dari kompresor berupa gas.
  2. Zat pendingin yang sudah didinginkan oleh kondensor berubah bentuk dari gas menjadi cair.
  3. Zat pendingin yang telah diturunkan tekanannya oleh katup ekspansi, berubah bentuk menjadi uap.
  4. Zat pendingin yang telah menyerap panas pada evaporator berubah bentuk menjadi gas.
  5. Zat pendingin yang berbentuk gas diberi tekanan oleh kompresor sehingga beredar dalam sistem AC,karena adanya tekanan maka zat pendingin menjadi panas.
  6. Kondensor akan medinginkan zat pendingin tersebut (kondensasi),sementara tekanan zat pendingin masih tetap tinggi dan berubah bentuk menjadi cair.



Sunday, July 3, 2011

Inilah Empat Penyebab Tangki Bahan Bakar Mobil Kotor



foto


ARIF ARIANTO, KAMIS, 23 JUNI 2011 | 11:47 WIB


TEMPO Interaktif, Jakarta - Liburan anak sekolah telah tiba dan Lebaran tinggal dua bulan lagi. Bagi Anda yang ingin memanfaatkan liburan untuk berekreasi bersama keluarga ke luar kota atau berniat pulang kampung saat Lebaran, ada baiknya mempersiapkan mobil dengan menguras tangki bahan bakar.


“Ada tidak ada isu fuel pump bermasalah, sebaiknya menguras tangki tetap dilakukan. Terlebih bila lama atau bahkan tidak pernah dibersihkan,” papar Umar Fatah atau biasa dipanggil Tatang, mekanik Panji Motor, Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat, Kamis, 23 Juni 2011.


Menurut Tatang, tangki bahan bakar bisa menjadi kotor karena banyak endapan lumpur dan partikel lainnya yang menyebabkan pompa bahan bakar atau fuel pump tersumbat. Selain itu, partikel atau kotoran berukuran kecil yang lolos di fuel pump dapat masuk ke saluran lainnya yang menuju ke ruang pembakaran.


Bila itu terjadi, ada beberapa kemungkinan. Pertama, injektor bahan bakar kotor dan tersumbat sehingga mobil sulit dinyalakan. Kedua, kotoran berukuran kecil tetap lolos dan masuk ke ruang bakar dan memengaruhi kinerja mesin.


“Bahan bakar yang banyak mengandung kotoran juga tidak bisa terbakar sempurna sehingga tenaga mobil loyo,” jelas Tatang.


Bahkan, lanjut dia, bila pengemudi tak menyadari dan tetap menginginkan mobil yang ditunggangi tetap melaju kencang, pengemudi akan menginjak pedal gas lebih dalam. Pada saat itulah asupan bahan bakar yang dibutuhkan juga bertambah banyak. Walhasil, mobil pun boros bahan bakar.


Lantas apa yang harus dilakukan? Apa saja penyebab tangki bahan bakar kotor? Berikut penjelasan Tatang :




1. Tangki bahan bakar kerap kosong


Satu hal yang kerap diabaikan pemilik mobil adalah volume bahan bakar di tangki yang tidak sampai seperempat dan terus dibiarkan. Padahal, kondisi seperti itu menjadi pemicu utama terjadinya kotoran di tangki.


Pasalnya, bahan bakar merupakan zat cair yang terdiri dari beberapa unsur, di antaranya Oktana, Heptana, Sulfur (belerang), Pumblum (timbal), paraffin, dan lain-lain. Semua unsur itu tercampur dengan takaran yang ideal dan dalam batas toleransi yang diizinkan.


Meski demikian, bila tangki dalam keadaan kosong, maka udara di dalam tangki yang semula panas (setelah mobil digunakan) dan bertransisi menjadi dingin (karena mobil sudah tidak digunakan) akan berubah menjadi embun. Pada saat yang bersamaan, beberapa unsur yang ada di bahan bakar akan bereaksi secara kimiawi dan membentuk senyawa.


Pada saat itulah akan terjadi zat baru yang berupa kotoran atau endapan. Meski semula sedikit, lama kelamaan akan bertambah menjadi banyak. “Terlebih bila tangki juga mengalami korosi atau karat dan hasil karat itu rontok dan jatuh ke dasar tangki,” kata Tatang.




2. Salah memilih bahan bakar


Ada harga ada barang. Begitulah pameo yang berlaku di masyarakat. Artinya semakin mahal harga suatu barang, maka kualitasnya juga semakin terjamin. Nah, bila Anda menginginkan bahan bakar yang bagus, maka pilihlah bahan bakar yang sesuai dengan spesifikasi yang dianjurkan pabrikan.


“Karena tidak sedikit mobil yang berharga di atas Rp 300 juta masih mengisinya dengan bahan bakar dengan RON di bawah 92. Padahal, jelas-jelas beda spesifikasinya,” ujar Tatang.




3. Mengisi bahan bakar di saat yang tidak tepat


Masalah waktu ini terlihat sepele atau remeh. Namun, akibatnya bisa serius bila Anda mengisi bahan bakar mobil di saat Stasiun Pompa Bensin Umum (SPBU) tengah atau baru mengisi bunker bahan bakar .


Pasalnya, pada saat itulah gerojokan bahan bakar dari mobil tangki ke bunker SPBU akan menyebabkan kotoran yang ada di dasar tempat itu naik ke permukaan. Sementara, berat jenis kotoran yang berukuran kecil lebih ringan ketimbang cairan bahan bakar. Akibatnya, kotoran tersebut akan terus melayang-layang di permukaan atau di dalam bahan bakar hingga beberapa waktu.


Bila kotoran tersebut ikut tersedot dan masuk ke tangki bahan bakar mobil Anda, karena Anda tidak sabar ingin segera mengisinya, maka akan menjadi endapan di dasar tangki. Oleh karena itu, tunggulah beberapa saat sebelum mengisi tangki bahan bakar mobil.


“Sebaiknya mengisi bahan bakar saat kegiatan di SPBU telah sepi atau sudah jarang orang mengisi bahan bakar kendaraan mereka,” pesan Tatang.




4. Tidak pernah menguras tangki bahan bakar


Bila Anda telah mengetahui beberapa penyebab dan potensi tangki bahan bakar kotor, sebaiknya segera memasukkan kegiatan kuras tangki sebagai bagian dari ritual rutin perawatan mobil. Sangat disarankan menguras tangki paling tidak lima tahun setelah pemakaian bagi mobil baru.


“Bahkan, bila mobil telah lama digunakan atau sudah berusia di atas tujuh tahun sebaiknya satu atau dua tahun sekali tangki dikuras,” saran Tatang.


Kegiatan itu, selain berguna untuk menghilangkan kotoran yang ada di tangki, juga bermanfaat untuk menghilangkan dan mencegah potensi terjadinya senyawa baru di tangki. Sebab, selain beberapa unsur kimia bahan bakar, di tempat itu juga terdapat bakteri.

Sunday, June 27, 2010

Cara Kerja AC Mobil




SISTEM A/C (AIR CONDITIONER) PADA MOBIL - 1

1. Nama-nama komponen utama AC (Air Conditioners)

AC atau Air Conditioners, adalah suatu rangkaian peralatan (komponen) yang berfungsi untuk mendinginkan udara didalam kabin agar penumpang dapat merasa segar dan nyaman.

Rangkaian peralatan (komponen) tersebut adalah :


a. Compressor








Gambar 1. Compressor

Berfungsi untuk memompakan refrigrant yang berbentuk gas agar tekanannya meningkat sehingga juga akan mengakibatkan temperaturnya meningkat.


b. Condenser








Gambar 2. condenser

Berfungsi untuk menyerap panas pada refrigerant yang telah dikompresikan oleh kompresor dan mengubah refrigrant yang berbentuk gas menjadi cair (dingin).











Gambar 3. Receiver


c. Dryer/receiver

Berfungsi untuk menampung refrigerant cair untuk sementara, yang untuk selanjutnya mengalirkan ke evaporator melalui expansion valve, sesuai dengan beban pendinginan yang dibutuhkan. Selain itu Dryer/receiver juga berfungsi sebagai filter untuk menyaring uap air dan kotoran yang dapat merugikan bagi siklus refrigerant.


d. Expansion valve









Gambar 4. Expansion valve

Berfungsi Mengabutkan refrigrant kedalam evaporator, agar refrigerant cair dapat segera berubah menjadi gas.


e. Evaporator








Gambar 5. Evaporator

Merupakan kebalikan dari condenser Berfungsi untuk menyerap panas dari udara yang melalui sirip-sirip pendingin evaporator, sehingga udara tersebut menjadi dingin.


f. Blower








Gambar 6. Blower



2. Cara kerja komponen AC


a. Compressor

Compressor terbagi menjadi dua bagian, yaitu :


  • Compressor
  • Kopling magnet (Magnetic Clutch)


1. Compressor

Kompresor digerakkan oleh tali kipas dari puli engine. Perputaran kompresor ini akan menggerakkan piston/vane dan gerakan piston/ vane ini akan menimbulkan tekanan bagi refrigerant yang berbentuk gas sehingga tekanannya meningkat yang dengan sendirinya juga akan meningkatkan temperaturnya.

Jenis kompresor ini dapat dipilahkan seperti dibawah ini :
  • Tipe Crank
  • Tipe Reciprocating
  • Tipe Swash plate
  • Tipe Rotary Tipe Through vane
  • Tipe Reciprocating mengubah putaran crankshaft menjadi gerakan bolakbalik pada piston.




Tipe Crank :









Pada tipe ini sisi piston yang berfungsi hanya satu sisi saja, yaitu bagian atas. Oleh sebab itu pada kepala silinder (valve plate) terdapat dua katup yaitu katup isap (suction) dan katup penyalur (discharge). Lihat gambar mekanis kompresi.









Pada langkah turun, refrigerant masuk kedalam ruang silinder dari evaporator, dan pada langkah naik refrigerant keluar dari ruang silinder menuju ke condenser dengan tekanan meningkat dari 2,1 kg/cm2 menjadi 15 kg/cm2 yang mengubah temperatur dari 0C menjadi 70C.

Tipe Swash Plate :













Terdiri dari sejumlah piston dengan interval 72 untuk kompresor 10 silinder dan interval 120 untuk kompresor 6 silinder. Kedua sisi ujung piston pada tipe ini berfungsi, yaitu apabila salah satu sisi melakukan langkah kompresi maka sisi lainnya melakukan langkah isap. (lihat bagan gambar mekanis kompresi)












Tipe Through Vane :












Tipe through vane ini terdiri atas dua vane yang integral dan saling tegak lurus. Dan bila rotor berputar vane akan bergeser pada arah radial sehingga ujung-ujung vane akan selalu bersinggungan dengan permukaan dalam silinder. (lihat bagan gambar mekanis kompresi)











Ilustrasi gambar:


  1. Adalah langkah awal isap dimana refrigerant masuk melalui lubang isap.
  2. Akhir langkah isap dimana lubang pengisapan telah tertutup.
  3. Awal langkah kompresi dimana refrigerant mulai dikompresi kan untuk menaikkan tekanan.
  4. Langkah kompresi penuh.
  5. Langkah penyaluran / pengosongan refrigerant dari silinder ke saluran keluar menuju ke condenser melalui katup tekan (discharge valve)
  6. Penyaluran refrigerant selesai, ruang vane akan memulai dengan awal langkah isap lagi.



Pada aktualnya through vane yang membentuk empat ruang, bekerja secara bergantian, sehingga proses diatas akan berjalan terus menerus secara berkesinambungan.


b. Kopling magnet (Magnetic Clutch)

Kopling magnet adalah perlengkapan kompressor yaitu suatu alat yang dipergunakan untuk melepas dan menghubungkan kompressor dengan putaran mesin. Peralatan intinya adalah : Stator, rotor dan pressure plate. Sistem kerja dari alat ini adalah elektro magnetic.

Cara kerjanya :

Puli kompressor selalu berputar oleh perputaran mesin melalui tali kipas pada saat mesin hidup. Dalam posisi switch AC off, kompressor tidak akan berputar, dan kompressor hanya akan berputar apabila switch AC dalam posisi hidup (on) hal ini disebabkan oleh arus listrik yang mengalir ke stator coil akan mengubah stator coil menjadi magnet listrik yang akan menarik pressure plate dan bidang singgungnya akan bergesekan dan saling melekat dalam satu unit (Clutch assembly) memutar kompresor.

Konstruksi :

Puli terpasang pada poros kompressor dengan bantalan diantaranya menyebabkan puli dapat bergerak dengan bebas. Sedang stator terikat dengan kompressor housing, pressure plate terpasang mati pada poros kompressor. (lihat gambar)

Tipe Kopling Magnet








Condenser















Refrigerant yang masuk kedalam condenser oleh karena tekanan kompresor masih dalam bentuk gas dengan temperatur yang cukup tinggi (80C).

Temperatur yang tinggi dari refrigerant yang berada dalam condenser yang bentuknya berliku-liku akan mengakibat kan terjadinya pelepasan panas oleh refrigerant. Proses pelepasan panas ini di permudah dengan adanya aliran udara baik dari gerakan mobil maupun isapan fan yang terpasang di belakang condenser. Semakin baik pelepasan panas yang di hasilkan oleh condenser se makin baik pula pendinginan yang akan dilakukan oleh evaporator.

Pada ujung pipa keluar condenser refrigerant sudah tidak berbentuk gas lagi akan tetapi sudah berubah menjadi refrigerant cair dengan temperatur 57C (cooled liquid).


Receiver / Dryer














Refrigerant dari condenser masuk ke tabung receifer melalui lubang masuk (inlet port), kemudian melalui dryer, desiccant dan filter refrigerant cair naik dan keluar melalui lubang keluar (outlet port) menuju ke expansion valve. Dryer, desiccant maupun filter berfungsi untuk mencegah kotoran yang dapat menimbulkan karat maupun pembekuan refrigerant terutama pada expansion valve yang mana akan mengganggu siklus dari refrigerant.

Bagian atas dari receifer/dryer disediakan gelas kaca (sight glass) yang berfungsi untuk melihat sirkulasi refrigerant.



Expansion valve



Oleh karena fungsi dari expansion valve ini untuk mengabutkan refrigerant kedalam evaporator, maka lubang keluar pada alat ini berbentuk lubang kecil (orifice) konstan atau dapat diatur melalui katup (valve) yang pengaturannya menggunakan perubahan temperatur yang dideteksi oleh sebuah sensor panas. Berdasarkan pengaturan pengabutan ini expansion valve dibedakan menjadi :


  • Expansion valve tekanan konstan
  • Expansion valve tipe thermal

Pada gambar diatas adalah cara kerja expansion valve tipe thermal.

Pembukaan valve sangat bergantung dari besar kecilnya tekanan Pf dari Heat sensitizing tube. Bila temperatur lubang keluar (out let) evaporator dimana alat ini ditempelkan meningkat, maka tekanan Pf > dari tekanan Ps + Pe, maka refrigerant yang disemprotkan akan lebih banyak. Sebaliknya bila temperatur lubang keluar (out let) evaporator menurun maka tekanan Pf < Ps + Pe, maka refrigerant yang disemprotkan akan lebih sedikit.
  • Ps : tekanan pegas
  • Pe : tekanan uap didalam evaporator





Evaporator













Perubahan zat cair dari refrigerant menjadi gas yang terjadi pada evaporator akan berakibat terjadi penyerapan panas pada daerah sekelilingnya, udara yang melewati kisikisi evaporator panasnya akan terserap sehingga dengan hembusan blower udara yang keluar keruang kabin mobil akan menjadi dingin.

Ada tiga tipe Evaporator yang terbuat dari aluminium yaitu :
















Siklus Pendinginan AC Mobil
















Siklus Pendinginan Air Conditioners merupakan suatu rangkaian yang tertutup.

Siklus pendinginan yang terjadi dapat digambarkan sebagai berikut :


  1. Kompresor berputar menekan gas refrigerant dari evaporator yang bertemparatur tinggi, dengan bertambahnya tekanan maka temperaturnya juga semakin meningkat, hal ini diperlukan untuk mempermudah pelepasan panas refrigerant.
  2. Gas refrigerant yang bertekanan dan bertemperatur tinggi masuk kedalam kondenser. Di dalam kondenser ini panas refrigerant dilepaskan dan terjadilah pengembunan sehingga refrigerant berubah menjadi zat cair.
  3. Cairan refrigerant diatampung oleh receifer untuk disaring sampai evaporator membutuhkan refrigerant.
  4. Expansion valve memancarkan refrigerant cair ini sehingga berbentuk gas dan cairan yang bertemperatur dan bertekanan rendah.
  5. Gas refrigerant yang dingin dan berembun ini mengalir kedalam evaporator untuk mendinginkan udara yang mengalir melalui sela-sela fin evaporator, sehingga udara tersebut menjadi dingin seperti yang dibutuhkan oleh para penumpang mobil.
  6. Gas refrigerant kembali kekompresor untuk dicairkan kembali di condenser.




SISTEM A/C (AIR CONDITIONER) PADA MOBIL - 2


Rangkaian / siklus sistem AC pada mobil

1. Peralatan tambahan yang terdapat pada rangkaian sistem AC mobil.
Peralatan tambahan yang menunjang terlaksananya proses sistem pendinginan, dan juga merupakan peralatan pokok yang harus ada meskipun tidak termasuk komponen utama, adalah :


a. Pressure Switch

Presure switch ini berfungsi untuk mengontrol tekanan yang terjadi pada sisi tekanan tinggi, bila tekanan siklus refrigerant terlalu berlebihan, baik terlalu tinggi (27 kg/cm2) maupun terlalu rendah (2,1 kg/cm2) maka secara otomatis akan menyetop switch sehingga magnetic clutch menjadi off.

Kondisi tekanan yang tidak normal ini akan menyebabkan terjadinya kerusakan pada berbagai komponen yang lain.

Letak pressure switch ada diantara receifer dan expansion valve (lihat gambar dibawah)













Tipe Pressure switch ini ada dua macam yaitu :

Tipe dual, yang meng gunakan satu switch untuk dua keadaan yaitu terlalu tinggi atau terlalu rendah Tipe single, dengan switch terpisah.

Gambar tipe dual


b. Alat Pencegah Pembekuan (Anti Frosting Devices)


Untuk menghidari berkurangnya efek pendinginan yang disebabkan
pembekuan air yang ada di fin pada evaporator yang terlalu dingin < 0 C, dapat dipasangkan peralatan ini yang terdiri atas dua jenis, yaitu :

Tipe Thermistor yang dipasangkan pada fin evaporator, dan bekerja berdasarkan sinyal thermistor yang mengontrol temperatur fin. Bila temperatur fin menurun < 0C, maka magnetic clutch akan mati dan kompresor akan berhenti berputar.

Tipe EPR (Evaporator Pressure Regulator) dipasangkan diantara eva porator dan kompresor, (lihat gambar) Tipe ini mengatur jumlah refrigerant yang mengalir dari evapo rator ke kompresor, dan menjaga agar tekanannya tidak kurang dari 1,9 kg/cm2, sehingga akan menjaga temperatur fin eva porator tidak turun < 0C.



c. Stabilizer putaran mesin


Peralatan ini berfungsi untuk menstabilkan putaran mesin melalui sensor pendeteksi RPM mesin yang dipasangkan pada arus primer ignition coil sehingga putaran idle mesin menjadi lebih baik dan tidak mudah mati.

Prinsip kerja dari mekanis peralatan ini adalah ketika RPM mesin drop hingga mencapai batas minimum, akan menghentikan magnetic clutch, sehingga kompresor berhenti bekerja dan RPM mesin akan normal kembali.



d. Peralatan idle up

Digunakan untuk meningkatkan RPM mesin pada kondisi idle dan AC dalam keadaan hidup. Tanpa alat ini mesin akan menjadi sangat berat karena harus mengangkat beban kompresor sehingga mesin akan sering mati dan kenyamanan berkendaraan akan menjadi terganggu.

Alat ini penggunaannya tergantung dari tipe dan jenis bahan bakarnya.

- Untuk jenis mobil konvensional (menggunakan karburator) digunakan vacuum switching valve (VSV) serta sebuah actuator untuk membuka throttle, sehingga putaran mesin akan meningkat pada putaran idle dan AC dalam keadaan hidup. (lihat gambar)













- Untuk mobil EFI, digunakan VSV yang dilengkapi diapraghma yang menyebabkan udara akan melalui surge tank, dan ECU akan menginjeksikan sejumlah tambahan bahan bakar sesuai dengan udara bypass, sehingga idling mesin akan meningkat.